ADVERTISEMENT

Bikin Jokowi Tahan Napas, Ini 3 Dampak Ngeri Omicron ke Ekonomi RI

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 20:30 WIB
BPS telah resmi mengumumkan data pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2021. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 3,51% secara year on year (yoy).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Varian virus COVID-19 terbaru, Omicron menghantui Indonesia. Bahkan Presiden Joko Widodo pun sampai harus menahan napas karena was-was dengan dampak yang bakal ditimbulkan Omicron ke Indonesia.

Menurut Jokowi, varian baru ini perlu sangat diwaspadai, khususnya pada dampaknya ke pemulihan ekonomi. Dia bilang angka-angka indikator pemulihan ekonomi saat ini sebetulnya sedang berada di level yang sangat baik dan memuaskan.

Namun, ketika mendengar varian Omicron muncul, Jokowi mengaku sampai harus menghela napas saking ngerinya membayangkan dampak Omicron ke ekonomi Indonesia.

"Ini angkanya baik-baik. Ini sudah kita senang banget dengar angka-angka seperti ini. Tapi begitu mendengar Omicron... (terdiam sejenak sekitar 5 detik) Ya menahan napas sedikit," ungkap Jokowi dalam kata pembukanya dalam Rapimnas Kadin, dikutip dari rekaman YouTube di akun Sekretariat Presiden, Minggu (5/12/2021).

Lalu apabila sampai masuk ke Indonesia seperti apa dampak ngerinya?

1. Ekonomi Melambat Lagi

Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memang saat ini dampak belum begitu dirasakan meskipun kekhawatiran di dunia usaha diyakini sudah mulai kelihatan.

Namun begitu, kalau sampai virus Omicron benar-benar menyebar luas di Indonesia, ada kemungkinan ekonomi akan kembali melambat. Pasalnya, pembatasan sosial ketat kemungkinan akan diberlakukan lagi bila Omicron masuk ke Indonesia, apalagi virus ini dinilai lebih kuat penyebarannya dibandingkan varian Delta.

"Dampak sih memang belum ada cuma kekhawatiran sudah ada dari kalangan usaha. Bila (Omicron) tersebar luas, nanti akan ada restriksi pergerakan sosial dan imbasnya ke aktivitas ekonomi lagi. Karena aktivitas terhambat ekonomi tak bergerak," ungkap Faisal kepada detikcom, Senin (6/12/2021).

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT