ADVERTISEMENT

Angkasa Pura I Terlilit Utang Jumbo Rp 35 T, Ini 4 Faktanya

Siti Fatimah - detikFinance
Selasa, 07 Des 2021 07:50 WIB
PT Angkasa Pura I memprediksi kenaikan jumlah penumpang pada liburan Nataru 2021 sebesar 25 persen. Atau berkisar 10 ribu orang penumpang setiap harinya.
Ilustrasi/Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebut beban utang perusahaan pelat merah terus meningkat. Kali ini terjadi di operator bandara PT Angkasa Pura I (Persero).

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, perusahaan ini tengah menanggung beban utang sebesar Rp 35 triliun. Jika tidak segera ditanggulangi maka ada potensi utang itu terus bertambah hingga Rp 38 triliun.

"Memang AP I sekarang tekanannya berat sekali, kondisi keuangan mereka ini sekarang utangnya mencapai Rp 35 triliun. Dan kalau kita rate, loss-nya bulanan mereka Rp 200 miliar itu mereka setelah pandemi utangnya bisa Rp 38 triliun," kata Tiko, sapaan akrabnya, dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Jumat (3/12) lalu.

Berikut beberapa fakta selengkapnya.

1. Bandara Baru jadi Beban Perusahaan

Tiko mengatakan, bandara baru khususnya Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang baru diresmikan pada 28 Agustus 2020 oleh Presiden Joko Widodo menjadi beban perusahaan. Pasalnya, bandara tersebut belum memberikan pemasukan yang optimal bagi perusahaan.

"Ini kami sedang terus lakukan rasionalisasi-rasionalisasi supaya bisa efisiensi dan memang beban mereka berat sekali karena bandara baru. Ini sebagai komparasi Bandara Kualanamu ini profitable dan udah cukup berumur dan seperti Yogyakarta ini beban berat sekali karena Yogyakarta (pembangunannya) Rp 12 triliun dan begitu dibuka langsung COVID-19," katanya.

2. Bandara Kulon Progo Rugi

PTS General Manager YIA, Agus Pandu Purnama mengatakan, Bandara YIA di Kulon Progo telah merugi selama pandemi COVID-19. Pengelola bandara bahkan melakukan pengurangan pegawai untuk menekan kerugian.

"Kemampuan untuk menjalankan operasional YIA terhambat pandemi COVID-19 sehingga mengalami kerugian yang cukup besar. Bisa dibayangkan dari target 10 juta penumpang per tahun, pada 2021 kami hanya bisa dapat 980.000 saja atau sekitar 10% dari target," katanya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT