ADVERTISEMENT

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2022 Diproyeksi Positif, Ini Penyebabnya

Dea Duta Aulia - detikFinance
Kamis, 09 Des 2021 23:15 WIB
Pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II-2021 diramal tembus 7%. BI menyebut hal ini karena pemulihan di sektor pendukung turut mendorong ekonomi nasional.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pemerintah Indonesia optimis bahwa akselerasi pemulihan ekonomi tetap terjaga di tahun 2022. Hal tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Kementerian Investasi, Indra Darmawan dalam dialog bertema Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2022 di Jakarta, Kamis (9/12/2021).

Menurutnya, ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin baik di tahun 2022 mendatang. Indra Darmawan menambahkan salah satu faktornya karena didukung oleh kebijakan yang tepat selama tahun 2021 serta diimbangi dengan meningkatnya kepercayaan dunia kepada Indonesia.

Terjaganya keseimbangan penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi juga menjadi nilai positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2022 mendatang.

"Pada 2022, sektor ekonomi domestik dipercaya sebagai salah satu pendorong kebangkitan ekonomi nasional, dengan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) menjadi penggerak utamanya. Untuk itu, berbagai upaya terus dilakukan guna membantu UMKM naik kelas, baik melalui kebijakan yang kondusif, pendampingan, maupun akses pembiayaan," kata Indra Darmawan dalam keterangan tertulis, Kamis (9/12/2021).

Indra Darmawan mengungkapkan, tahun 2020 adalah tahun survival dan 2021 adalah tahun pemulihan bagi Indonesia. Sedangkan 2022, disebut sebagai tahun penyesuaian dengan new normal dengan penanganan pandemi sebagai tantangan utamanya.

"Namun saya melihat optimis ke depan," ujarnya.

Optimisme ini terbangun tak terlepas dari capaian target investasi yang pada 9 bulan pertama 2021 telah meraih prosentase 73%, dengan proporsi yang seimbang antara Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri, serta seimbang pula antara wilayah Jawa dan di luar Jawa.

Realisasi investasi sejauh ini sangat didukung oleh pulihnya berbagai sektor seiring meningkatnya mobilitas masyarakat. Beberapa sektor tersebut di antaranya sektor konsumsi, telekomunikasi, transportasi dan sektor lain yang mendukung realisasi investasi.

Ada pun target investasi di tahun 2022, Indra menjelaskan, Pemerintah menargetkan naik sampai Rp 900 triliun dari tahun sebelumnya.

"2022, target investasi dinaikkan dari 900 triliun tahun ini menjadi 1200 triliun," kata Indra.

Ia mengaku cukup optimis target tersebut akan dapat tercapai, mengingat adanya berbagai peluang, termasuk perencanaan investasi yang telah terhitung, serta realisasi investasi yang selama ini tertunda. Selain itu terdapat 3 sektor lain yang akan didorong sebagai sektor tambahan. Yakni hilirisasi Sumber Daya Alam, ekonomi hijau, serta ekonomi digital. Dalam ekonomi digital tersebut dibutuhkan peningkatan ekosistem, literasi, dan digitalisasi UMKM.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo mengatakan senada. Pihaknya optimis akan pertumbuhan ekonomi pada 2022 mendatang karena kebijakan pemerintah pada 2021 sudah tepat.

Pemerintah dikatakannya akan terus memberikan dukungan melalui kebijakan maupun implementasi di lapangan, baik bagi private sector maupun masyarakat. Yustinus menandaskan, setiap pihak harus bersinergi agar momentum pemulihan ekonomi ini dapat dimanfaatkan dengan baik.

Ia juga mengungkapkan, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) akan tetap difokuskan untuk mendukung sektor kesehatan dan perlindungan sosial.

"RAPBN 2022 akan tetap fokus lagi pada dukungan kesehatan, perlindungan sosial dan skemarestrukturisasi seperti pada Sumber Daya Manusia, UMKM, dan digital," ujar Yustinus.

Berbagai program telah diluncurkan guna menjaga pemulihan ekonomi berada dalam momentum yang positif. Selain dukungan untuk sektor kesehatan, bantuan sosial, kebijakan yang meringankan pelaku usaha, juga dukungan dalam bentuk insentif akan diteruskan untuk pelaku usaha agar bisa menjadi bantalan, sebelum upaya pemulihan yang betul-betul kuat dapat dilakukan.

Sebagai contoh kebijakan dimaksud, hingga Desember 2021, UMKM dibebaskan dari pajak karena ditanggung pemerintah.

Cadangan juga telah dipersiapkan apabila tahun depan masih diperlukan. Salah satunya, ia menjelaskan, pada 2022 UMKM orang pribadi dengan omzet sampai dengan Rp 500 juta tidak dikenai pajak.

"Ini adalah bentuk dukungan konkret bagi UMKM," tandas Pras.

Dari sisi pengusaha, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Arsyad Rasyid juga juga mengatakan hal serupa. Menurutnya salah satu poin penting optimisme itu terbangun karena Indonesia sudah kembali dipercaya oleh global.

Arsyad Rasyid menjelaskan, momentum ini harus dirawat dengan sebaik mungkin dengan cara mengawal penanganan kesehatan.

"Prokes dan vaksinasi jadi kunci," jelasnya.

Untuk pemulihan ekonomi misalnya, Arsyad Rasyid menyarankan agar semua pihak menyamakan persepsi baik itu pelaku usaha atau kementerian terkait. Untuk mencapai persamaan persepsi, Kadin selalu berupaya dengan melakukan dialog sosial.

"Kadin berusaha melakukan dialog sosial, menyampaikan persepsi, alignment, terhadap pertumbuhan ekonomi ke depan," jelasnya.

Ia juga menghargai adanya insentif dan relaksasi yang diberikan pemerintah terutama bagi para pelaku UMKM, karena kebangkitan sektor domestik juga dirasa sangat penting. Transformasi UMKM ke arah digital menjadi salah satu fokus Kadin pada tahun depan.

"2022, Kadin fokus membantu UMKM bertransformasi ke basis digital, juga mendorong mentoring UMKM karena masih banyak UMKM yang informal," tegasnya.

Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal juga menggarisbawahi pentingnya pendampingan teknis bagi UMKM agar lebih kompetitif dengan situasi yang baru, selain dukungan berupa akses pendanaan. Karena UMKM memberikan kontribusi besar bagi perekonomian dan penguatan ekonomi domestik harus makin dijaga pada 2022.

"(Pada 2022) kita akan lebih bergantung pada ekonomi domestik, meski eksternal tetap jadi harapan kita," papar Faisal.

Menurutnya, semua sektor akan lebih baik pada 2022, termasuk ritel, jasa, manufaktur, juga sektor primer seperti pertambangan, pertanian, dan perkebunan.

"2022 diprediksikan ekonomi akan lebih kuat dari tahun ini. Yang perlu dicatat adalah kita jangan melihat target jangka pendek atau pulih seperti sebelum pandemi, kita harus tumbuh lebih bagus, kita harus lakukan transformasi ekonomi," pangkas Faisal.



Simak Video "Sederet Bansos yang Cair Tahun Ini, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT