Iri Sama Influencer, Elon Musk Sampai Kepengin Resign dari Tesla!

Siti Fatimah - detikFinance
Sabtu, 11 Des 2021 11:50 WIB
Jakarta -

Orang terkaya di dunia, Elon Musk mengagetkan jagat dunia maya. Dia berpikir untuk berhenti dan meninggalkan pekerjaannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) Tesla Inc (TSLA.O) dan beralih profesi menjadi influencer.

"Berpikir untuk berhenti dari pekerjaan saya & menjadi influencer penuh waktu," kata Musk dalam cuitannya di Twitter, dikutip dari Reuters, Sabtu (11/12/2021).

Elon Musk tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai keinginannya tersebut. Dia memang dikenal sebagai pengguna aktif Twitter, tak sedikit cuitannya menimbulkan kontroversi hingga mempengaruhi pergerakan harga saham dan mata uang kripto, terutama Dogecoin dan Bitcoin.

Keinginan untuk berhenti sebagai CEO Tesla ini bukan yang pertama kalinya. Musk, yang juga pendiri dan CEO perusahaan roket SpaceX, serta pemimpin startup chip Neuralink dan perusahaan infrastruktur The Boring Company pada Januari 2021 dalam konferensi pers berharap menjadi CEO Tesla selama "beberapa tahun" lagi, lalu melepaskannya untuk lebih banyak menikmati waktu senggang.

"Akan menyenangkan untuk memiliki sedikit lebih banyak waktu luang daripada hanya bekerja siang dan malam, dari ketika saya bangun hingga ketika saya pergi tidur 7 hari seminggu. Cukup intens," ujarnya.

Pada November 2021 lalu, dia juga bertanya kepada followersnya di Twitter soal penjualan 10% saham dan mayoritas disetujui netizen. Elon Musk kemudian mewujudkan keinginan netizen dengan menjual saham Tesla senilai hampir US$ 12 miliar dan membuat harga saham perusahaan mobil listrik itu turun di Bursa Wall Street.

Miliarder itu dikenal karena sering mengolok-olok di Twitter dan aktif berinteraksi dengan pengikutnya. Dia bahkan sempat didenda US$ 20 juta oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS atas cuitannya pada 2018 lalu.

Howard Fischer, mitra di firma hukum Moses & Singer meragukan tweet terbaru Musk terkait keinginannya mundur dari Tesla. Cuitannya kali ini dinilai tak berpengaruh pada kondisi pasar saham.

"Saya pikir komentar media sosial Musk tunduk pada diskon besar, seolah-olah, oleh pasar, dibandingkan dengan eksekutif lain," kata Fischer.

(eds/eds)