Mendag Sebut Ekspor RI Sudah Naik Kelas, Kelas Berapa?

ADVERTISEMENT

Mendag Sebut Ekspor RI Sudah Naik Kelas, Kelas Berapa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 23 Des 2021 13:11 WIB
Mendag M Lutfi
Menteri Perdagangan
Jakarta -

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkap saat ini ekspor Indonesia sudah berevolusi atau naik kelas. Kalau sebelumnya Indonesia mengekspor barang mentah, saat ini sudah banyak mengirim barang jadi.

"Memang barang komoditas kita tengah tinggi, tetapi struktur daripada ekspor kita sudah barang industri dan industri berteknologi tinggi. Ini yang mesti kita syukuri bahwa ini evolusi daripada ekspor sudah menjadi barang berteknologi tinggi," katanya dalam acara Pelepasan Ekspor Akhir Tahun 2021 Oleh Menteri Perdagangan, Kamis (23/12/2021).

Adapun barang ekspor nonmigas yang kini merajai ekspor Indonesia di antaranya, turunan atau produksi dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), besi dan baja, elektronik, hingga otomotif.

"Tahun ini pertumbuhannya berevolusi menjadi barang industri. Di sini ada CPO dan turunannya, besi baja. Kita tidak pernah bayangkan Indonesia pada 10 tahun lalu akan menjadi negara super power dari besi dan baja, kemudian elektronik, dan selalu yang menjadi pujaan saya adalah otomotif," ungkapnya.

Lutfi mengaku sudah melihat prospek tinggi ekspor di segmen otomotif sebelum dirinya menjadi menteri perdagangan. Kala itu dalam catatannya dari 1.000 orang Indonesia pasti 37 di antaranya memiliki mobil.

"Saat menjadi Kepala Koordinasi Penanaman Modal di BKPM di AS pada 2006 setiap 1.000 orang ada 1.001 mobil berarti setiap orang punya satu mobil. Di Jepang setiap 1.000 orang 583 punya mobil. Saya cari yang dekat dengan RI, ada Thailand. Di Thailand setiap 1.000 orang ada 179 mobil. Di Indonesia setiap 1.000 orangnya hanya da 37 mobil. Pada saat itu Indonesia paling prospektif," jelasnya.

Kemudian, tahun ini pertumbuhan ekspor besi dan baja mencapai 98%, Lutfi menargetkan nilainya bisa mencapai US$ 20 miliar.

"Pada 2020 kita mengekspor US$ 10,86 miliar produk besi dan baja kita, 69% datang dari Tiongkok, pergi balik lagi ke Tiongkok untuk menjadikan akses yang lebih luas. Pertumbuhan besi-baja kita tahun ini 98% Insyaallah akan mencapai US$ 20 miliar. Ramuan acian kita bisa membuat ekspor nonmigas kita sangat sehat," tutupnya.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT