Balada Harga Bahan Pokok Meroket tapi Upah Minimum Naik Tipis

ADVERTISEMENT

Balada Harga Bahan Pokok Meroket tapi Upah Minimum Naik Tipis

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 28 Des 2021 07:00 WIB
Pasca Lebaran, harga bahan pangan berangsur turun. Salah satunya di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Rabu (28/6).
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Masyarakat dihadapkan kenyataan pahit menjelang awal tahun 2022. Berbagai harga barang dan kebutuhan pokok meroket secara bersamaan. Di sisi lain, upah minimum di mayoritas daerah justru mengalami kenaikan yang sangat minim tahun depan.

Dengan hitungan baru upah minimum provinsi (UMP) dengan aturan turunan UU Cipta Kerja, rata-rata upah minimum secara nasional hanya naik 1,09%. Misalnya, UMP Jawa Barat yang hanya naik 1,72% atau Rp31.135 menjadi pada tahun depan. Ataupun UMP Banten yang naik cuma 1,63% saja atau sekitar Rp 40 ribuan.

Hal-hal semacam ini dinilai hanya akan menambah beban bagi masyarakat. Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad saat ini kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia belum sepenuhnya pulih dari dampak pandemi.

Pemulihan ekonomi belum seutuhnya didapatkan oleh masyarakat, kenaikan harga malah jadi beban baru masyarakat. "Dari situasi ini, mulai saat ini hingga tahun depan beban masyarakat akan makin tinggi. Sementara itu proses recovery ekonomi ini belum optimal. Pertumbuhan ekonomi masih jauh lebih rendah dengan penurunan kemiskinan dan pengangguran," kata Tauhid kepada detikcom, Senin (27/12/2021).

Apalagi menurut Tauhid banyak sekali kebijakan pemerintah yang juga memberatkan beban masyarakat. Misalnya saja, peralihan BBM ke Pertamax yang menimbulkan biaya tambahan untuk kebutuhan bensin. Ataupun rencana kenaikan tarif listrik yang bakal dilakukan tahun depan.

Dampaknya, menurut Tauhid pertumbuhan ekonomi tidak akan berjalan optimal. Pasalnya, dengan harga yang naik dan pendapatan yang tetap rendah kemungkinan masyarakat akan mengurangi konsumsinya.

"Dampaknya, tentu saja pertumbuhan ekonomi akan berjalan tidak optimal. Konsumsi pasti turun karena harga relatif naik tapi pendapatan pun segitu-gitu aja, naik pun tipis," kata Tauhid.

Tauhid menilai pada akhirnya kesenjangan sosial akan makin lebar. Di tengah kenaikan harga yang terjadi, orang kaya dinilai akan lebih leluasa mengatur keuangannya. Pasalnya orang kaya lebih banyak memiliki cadangan uang dibandingkan kelompok menengah ke bawah.

"Dampak lainnya yang terjadi adalah kesenjangan akan makin tinggi, karena masyarakat menengah ke atas kan mereka lebih leluasa mengatur keuangannya. Melihat trennya, mereka banyak menyimpan uang di SBN dan sebagainya, ini cenderung akan meningkatkan kesejahteraan mereka saja," ungkap Tauhid.

Lihat juga video 'Harga Pangan Naik. PLT Walkot Bandung Bakal Gelar Rapat Koordinasi':

[Gambas:Video 20detik]



Berlanjut ke halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT