e-Life

Hati-hati Belanja dengan Cicilan 12 Bulan

dtv - detikFinance
Selasa, 28 Des 2021 18:10 WIB
Jakarta -

Akses belanja kini makin mudah. Tak hanya bisa dilakukan dengan satu dua kali klik, namun opsi cicilan atau bayar belakangan juga membuat kebiasaan belanja semakin sulit ditahan.

Fitur-fitur tersebut memang memudahkan, namun hati-hati dan jangan sampai terlena. Bisa-bisa, hidup malah serasa dikejar-kejar cicilan dan dililit utang.

"Ketika kita melihat cicilan sebagai opsi, berarti kan sebenarnya budget kita terbatas. Kalau budget kamu terbatas, berarti kamu belum mampu sebenarnya untuk membeli barang itu. Nah, coba dipikir lagi, dipikir aja dulu kalau aku membeli barang ini dengan cicilan, satu, apakah aku mampu membayarnya dengan cicilan setiap bulan? Yang kedua, apakah kalau aku membeli barang ini dengan cicilan, bulan depan aku tidak akan membeli barang lain dengan cicilan? Dan yang ketiga, jangan beli kalau kamu memang tidak mampu bayar. Sesimpel itu," tutur Financial Planner & Educator, Aliyah Natasya di acara e-Life detikcom.

Opsi menyicil tidak disarankan untuk utang konsumtif. Selain karena menyebabkan efek ketagihan, barang yang dibeli juga biasanya tidak ada manfaat produktifnya dan hanya memberi kepuasan sesaat.

"Yang namanya hutang nih ya, diingat, selalu mengambil porsi masa depan kamu. Jadi sayang banget kan, kalau uang yang sebenarnya bisa digunakan untuk masa depan kamu, malah dipakai untuk berhutang barang sesaat," kata Aliyah.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk belanja dengan opsi menyicil, sebaiknya tanyakan dulu pada diri sendiri. Apakah barang ini akan bermanfaat tiga bulan lagi, enam bulan lagi, atau satu tahun lagi.

Aliyah juga menyarankan, jika hendak mengambil cicilan, usahakan maksimal 6 bulan saja. Ini demi mencegah kebiasaan berutang.

"(Cicilan) maksimal itu 6 bulan deh, jangan 12 bulan. Kenapa? Semakin kamu lihat kecil, nominal cicilannya, kamu akan terbiasa mencicil, menambah, menambah, menambah sehingga porsi hutangnya terus bertambah. Jangan pernah membiasakan utang itu menjadi kebiasaan atau habit," katanya.

(gah/gah)