Amerika Serikat Dilanda Krisis Tenaga Kerja, Kok Bisa?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 30 Des 2021 11:03 WIB
Monitor view over a male shoulder, job search title on the screen, close up. Education, business concept photo
Foto: iStock
Jakarta -

Para pengusaha dan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat (AS) hingga saat ini masih terus berjuang mencari karyawan. Negara itu tengah mengalami krisis tenaga kerja yang telah berlangsung selama beberapa bulan belakangan ini.

Melansir dari CNN, Kamis (30/12/2021), krisis tenaga kerja ini mulai terjadi diakibatkan tingginya tingkat karyawan yang berhenti dari pekerjaan mereka.

Pada awalnya, banyak perusahaan yang mulai memberhentikan karyawannya secara massal karena adanya penutupan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Meskipun jutaan orang telah kembali ke pekerjaan mereka saat kegiatan bisnis dibuka kembali, pada kenyataannya jumlah pekerja yang kembali bekerja ini tidak mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan tenaga saat ini.

Hingga Oktober kemarin, setidaknya terdapat lebih dari 11 juta pekerjaan yang tersedia di negeri Paman Sam ini. Namun jumlah tenaga kerja yang aktif hampir tidak cukup untuk mengisi kebutuhan pasar kerja tersebut.

Banyak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan, tetapi hanya sedikit sekali yang meresponnya. Padahal sejumlah perusahaan ini telah mencoba berbagai cara untuk memikat para pekerja, mulai dari tambahan gaji dan insentif, sistem kerja yang lebih menguntungkan, dan sebagainya.

Karena itu para ekonom AS percaya bahwa fenomena krisis tenaga kerja ini merupakan kejutan terbesar bagi pasar tenaga kerja AS sejak Perang Dunia II. Namun tidak seperti 75 tahun lalu, partisipasi angkatan kerja menurun akibat pandemi.

Namun di sisi lain, sejumlah ekonom merasa optimis kalau pandemi mungkin secara mendasar menjadi peluang bagi para pengusaha untuk mengubah dinamika sistem ketenagakerjaan saat ini

"Ketidakcocokan kekuatan lama mencerminkan ekonomi yang tidak sehat dan rapuh," kata Kate Bahn, kepala ekonom sementara di Washington Center for Equitable Growth.

"Kami memiliki kesempatan sekali seumur hidup untuk melakukan sesuatu tentang hal itu," jelasnya lagi.

Lihat juga video 'Kasus Covid-19 di AS Cetak Rekor, Kematian dan Rawat Inap Rendah':

[Gambas:Video 20detik]



(das/das)