RI Bisa Tutup 2021 di Indeks Ekonomi hingga 4%, Ini Kata Airlangga

Dea Duta Aulia - detikFinance
Kamis, 30 Des 2021 18:52 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Foto: dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh di atas 5% pada triwulan IV 2021 dan 3,7% sampai 4% setahun penuh di 2021. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis target itu tercapai karena ada sejumlah indikator utama yang saat ini telah menunjukkan perbaikan.

Salah satu indikatornya yakni melandainya kasus positif COVID-19 yang menyebabkan aktivitas masyarakat kembali menggeliat dan sektor strategis seperti manufaktur serta perdagangan bangkit. Tak hanya itu, sumbangan dari sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga membantu untuk menumbuhkan perekonomian Indonesia.

"Kemudian sektor informasi dan komunikasi akibat adaptasi kebiasaan baru yang membutuhkan koneksi internet, serta sektor pertambangan dan penggalian yang disebabkan tingginya permintaan ekspor dan penguatan harga komoditas," kata Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Kamis (30/12/2021).

Sementara itu, untuk pajak dan investasi 2021 juga menunjukkan hasil yang sangat baik. Dari penerimaan pajak tercatat sampai 26 Desember 2021 jumlah neto mencapai Rp 1.231,87 triliun tembus sampai 100,19% dari target yang telah ditentukan yakni Rp 1.229,6 triliun.

Untuk kinerja investasi, realisasinya pada Triwulan III-21 tembus sampai Rp 216,7 triliun naik sebesar 3,7% (yoy). Adapun detailnya, Airlangga menjelaskan, Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 103,2 triliun (47,6%) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 113,5 triliun (52,4%) dari total jumlah investasi yang didapatkan.

"Ke depannya, kita harapkan Indonesia Investment Authority bisa bergerak karena Pemerintah sudah memberikan modal Rp30 triliun, sehingga tinggal realisasi proyek-proyek mana yang akan dibiayai. Kita juga mendorong berbagai Proyek Strategis Nasional yang hingga 2024 nilainya bisa mendekati Rp5.000 triliun," ungkap Airlangga.

Menurut Airlangga, pemilihan perekonomian Indonesia juga tidak terlepas dari dukungan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dijalankan sejak 2020. Pasalnya, melalui program tersebut, pemerintah memberikan sejumlah insentif untuk para usaha untuk bersama mendorong perekonomian agar tetap bergerak.

Klaster Insentif Usaha dan Perlinsos menjadi klaster yang mencatatkan realisasi tertinggi. Misalnya PPh Pasal 25 dan pajak UMKM yang ditanggung Pemerintah, PPNBM, dan PPn yang ditanggung Pemerintah untuk properti. Ini semua mendorong perekonomian bergerak, dan menunjukkan komitmen serta keseriusan Pemerintah mendukung masyarakat menghadapi pandemi," tambahnya.

Pemerintah juga terus mengenjot pertumbuhan ekonomi pada 2022 mendatang hingga 5,2%. Menurut Airlangga, target ini sejalan dengan proyeksi dari sejumlah lembaga internasional seperti IMF (5,9%), OECD (5,2%), dan World Bank (5,2%).

Airlangga menjelaskan ada sejumlah catatan penting yang perlu diperhatikan agar target tersebut dapat tercapai. Salah satunya yakni kondisi kesehatan harus terjaga dan nilai ekspor naiknya besar.

"Tapi momentum ini harus dilihat dalam 6 bulan pertama dulu untuk bisa memutuskan kebijakan selanjutnya," terang Airlangga.

Kunci dari pertumbuhan ekonomi tahun mendatang menurut Airlangga masih akan difokuskan pada keberhasilan pengendalian pandemi, kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi.

"Kalau dari APBN capaiannya maksimal, kemudian dari segi investasi sudah memenuhi target, juga dari konsumen dan sektor industri yang pulih, maka inilah empat engine yang membuat ekonomi kita bergerak. Kemudian, engine yang juga penting adalah digitalisasi, yang di 2020 valuasinya mencapai US$40 miliar, di 2021 loncat ke US$70 miliar, dan di 2025 akan naik lagi ke US$130 miliar. Transformasi digital harus didorong karena ini dijalankan oleh anak-anak muda kita yang menjadi backbone perekonomian ke depan," ujar Airlangga.

Airlangga juga menjelaskan, agar pemulihan ekonomi dapat berjalan dan mencapai target perlu juga diimbangi dengan hadiran beragam solusi dan inovasi.

"Tahun 2021 adalah tahun yang berat, tetapi solusinya adalah inovasi dan optimisme. Jadi, bekal untuk 2022 adalah teruslah berinovasi, optimis, jadi kita akan maju. Jangan lupa prokes menjadi kunci, juga lakukan booster vaksin," tutupnya.

(prf/hns)