Ramalan Harga Emas di 2022: Berpotensi Tembus Rekor Baru

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 02 Jan 2022 14:00 WIB
Harga emas terus merangkak naik. Hari ini, harga emas Antam bahkan tembus Rp 1 juta. Pergerakan harga emas ini pun diperkirakan masih akan mengalami kenaikan.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Harga emas di 2022 diprediksi akan bergerak dalam zona hijau. Aset berkilau ini diyakini akan melanjutkan uptrend bullish jangka panjangnya di tahun ini.

Melansir Kitco News, Minggu (2/1/2022), Kepala strategi emas di State Street Global Advisors, George Milling-Stanley memprediksi harga emas akan diperdagangkan pada level US$ 1.800 dan US$ 2.000 per ounce pada 2022. Bahkan dia menilai harga emas bisa mencapai lebih dari US$ 2.000 per ounce menuju rekor tertinggi yang baru.

"Kami melihat peluang 80% harga emas bertahan di kisaran saat ini untuk bergerak lebih tinggi tahun depan. Bahkan dengan Federal Reserve yang ingin memperketat suku bunga tahun depan, kami pikir emas memiliki peluang yang cukup bagus untuk bergerak lebih tinggi," tuturnya.

Meski begitu State Street juga memprediksi kasus terburuknya, peluangnya 20% dengan rentang posisi harga emas berada di kisaran US$ 1.600 dan US$ 1.800 per ounce.

Milling-Stanley menegaskan kembali pendiriannya bahwa investor emas tidak perlu takut akan poros yang akan datang dalam kebijakan moneter Federal Reserve. Selama pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS terakhir, Federal Reserve mengisyaratkan bahwa mereka akan mengakhiri pembelian obligasi bulanan pada bulan Maret dan menaikkan suku bunga tiga kali tahun depan.

Namun, menurut Milling-Stanley pada periode antara 2015 dan 2019, Federal Reserve menaikkan suku bunga sembilan kali dan harga emas tetap naik hampir 35%. Antara 2004 dan 2005 bank sentral AS menaikkan suku bunga 17 kali dan harga emas naik 70%.

Sementara J.P. Morgan Global Research, dalam laporan prospek 2022 yang baru-baru ini diterbitkan, diprediksi harga emas turun ke tingkat pra-pandemi pada akhir tahun depan.

"Pelonggaran dalam kebijakan bank sentral ultra-akomodatif akan menjadi yang paling bearish untuk emas dan perak selama 2022," kata para analis.

Prospek datang karena Federal Reserve berencana untuk mengakhiri pembelian obligasi bulanan pada bulan Maret dan terlihat untuk menaikkan suku bunga tiga kali. Saat ini, pasar mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga pertama di bulan Mei.

Namun, JPMorgan mencari bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga pada bulan September. Yang membebani harga emas adalah perkiraan bank untuk kenaikan imbal hasil obligasi karena ekspektasi inflasi jangka panjang tetap berlabuh dengan baik.



Simak Video "Harga Emas Naik, Warga di Parepare Ramai-ramai Jual Emas"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)