Year In Review 2021

Menggiurkan! Berkat Holding UMi 2 Usaha Ini Raih Omzet Puluhan Juta

Faidah Sofuroh - detikFinance
Minggu, 02 Jan 2022 15:41 WIB
Ilustrasi Gedung BRI
Foto: Bank BRI
Jakarta -

September 2021 jadi tonggak sejarah bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Emiten berkode saham BBRI itu resmi menjadi induk Holding Ultra Mikro yang membawahi PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Penggabungan tiga entitas tersebut, menurut Direktur Utama BRI Sunarso, tak semata soal profitabilitas. Tujuan utamanya adalah mendorong 'wong cilik' berwirausaha, membuka lapangan kerja dan bisa naik kelas.

Caranya, dengan meningkatkan sinergi antar perusahaan untuk menciptakan ekosistem pembiayaan usaha ultra mikro (UMi) serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang andal dan efisien.

Andal di sini dapat berarti kemudahan akses bagi debitur atau nasabah untuk memperoleh pendanaan dengan memanfaatkan jaringan outlet Pegadaian di berbagai daerah. Atau, bisa pula berarti keberlanjutan usaha yang dapat dicapai melalui pendampingan berkala oleh para account officer PNM.

Sementara efisien bisa berarti penurunan biaya operasional dan biaya dana, sehingga tingkat suku bunga pinjaman yang diberikan kepada debitur UMi dan UMKM bisa lebih murah.

"Holding Ultra Mikro ini akan bisa memberikan jangkauan layanan yang lebih luas kepada masyarakat, dengan pilihan produk yang beragam dan sudah barang tentu dengan harga yang lebih murah," ungkap Sunarso.

Usaha Menggemukkan Sapi

Tak dapat dipungkiri, pinjaman dengan bunga murah memang jadi stimulus bagi para pelaku usaha ultra mikro dan UMKM untuk bisa tetap eksis dan berkembang. Terlebih di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi COVID-19. Muslimin, warga Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah, yang berkecimpung di bisnis penggemukan sapi pun mengamininya.

Dalam tiga tahun, usaha yang dirintisnya itu berkembang dengan memanfaatkan fasilitas kredit usaha rakyat yang disalurkan BRI. Untuk usaha penggemukan ini, Muslimin tidak membeli sapi anakan melainkan sapi dewasa berusia sekitar 2 tahun. Sapi dibuat gemuk dengan makanan yang diracik khusus plus diberi suplementasi vitamin.

Ongkos pakan dan berbagai peralatan pendukung di peternakannya berasal dari KUR. Setelah bobot sapi naik dan memenuhi standar yang disukai konsumen, barulah ia menjualnya dan meneguk keuntungan.

"KUR ini kan bunganya kecil ya. Jadi menurut saya sih nggak memberatkan," ungkap Muslimin.

Kini, usahanya yang dimulai dengan penggemukan 4 ekor sapi itu membesar dengan bertambahnya jumlah sapi yang digemukkan menjadi 40 ekor. Dalam sebulan setidaknya ada 5 ekor sapi yang terjual dengan kisaran harga Rp 17-18 juta per ekornya. Adapun omzet yang ia peroleh per bulan sekitar Rp 80-90 juta.

Usaha Kandang Burung Puyuh

Selain Muslimin, pengusaha lain yang juga beroleh berkah dari kredit murah adalah Suwantono dan Muslikah. Sejoli suami-istri asal Dusun Dalingan, Desa Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah itu bisa keluar dari kesulitan ekonomi dengan bisnis kandang burung puyuh.

Ketika memulai usaha untuk pertama kalinya, Suwantono dan Muslikah hanya memiliki modal Rp 2,5 juta untuk membeli kayu, gergaji, hingga kawat. Namun, bisnis kandang puyuh mereka tak ujug-ujug laku. Modal awal yang dipakai untuk membuat 40 kotak kandang berkapasitas 1.000 ekor itu bahkan seperti menguap begitu saja karena tak ada pembeli.

"Perakitan pertama kita salah dan rugi 40 kotak kandang. Pengerjaan selama 1 bulan, itu rugi tenaga dan rugi modal Rp 2-3 juta," kata Suwanto.

Setelah melalui sejumlah kegagalan dan menemukan trik jitu dalam membuat kandang yang diminati konsumen, Suwantono dan Muslikah pun memberanikan diri menambah kapasitas produksi mereka.

"Di BRI ambil KUR. Tahun 2020 mengajukan Rp 50 juta, dikabulkannya Rp 25 juta. Buat nambah modal usaha produksi kandang, beli kayu, beli kawat. Beli alat juga," ujar Muslikah.

Selain itu, dalam merintis usahanya, Muslikah mengatakan dirinya juga melakukan pinjaman melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) milik PNM. Berkat permodalan ini, Muslikah mengaku terbantu untuk mengembangkan usahanya karena bunga yang kecil dan tak perlu ada jaminan.

"Pinjaman awal saat itu Rp 2 juta untuk nambah modal warung kopi dulu. Terus berlanjut pinjaman ke 2 Rp 3 juta. Sekarang sudah 3 kali, yang ketiga Rp 4 juta. Bergabung dengan Mekaar sudah 2 tahun lebih," katanya.

"Membantu dari segi menambah modal. Terus bunganya kecil. Proses pencairan cepat dan gampang. Dan nggak perlu jaminan apa-apa," pungkasnya.



Simak Video "Year in Review 2021: Hingar Bingar UMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/zul)