RI Tak Mau Keluar Dari OPEC

RI Tak Mau Keluar Dari OPEC

- detikFinance
Kamis, 04 Mei 2006 12:22 WIB
Amman - Meski Indonesia dinilai lebih banyak melakukan impor ketimbang ekspor minyak, namun pemerintah menegaskan tidak akan keluar dari perkumpulan negara-negara pengekspor minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)."Saya dan menlu (Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda) sepakat kita jangan keluar dari OPEC," ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam konferensi pers di Hotel Four Seasons, Amman, Yordania seperti dilaporkan wartawan detikcom Budiono Darsono, Rabu (3/5/2006) pukul 21.00 WIB atau Kamis (4/5/2006) pukul 01.00 WIB dini hari.Nantinya, ungkap Purnomo, produksi minyak Indonesia akan lebih banyak digeser ke Cina selain Jepang dan AS. Disisi lain, Indonesia juga gencar melirik kerja sama dengan sejumlah perusahaan minyak dan gas dari negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar dan Kuwait untuk memenuhi produksi minyak di kilang Cilacap dan Balikpapan."Kilang Cilacap dan Balikpapan tidak bisa diisi minyak mentah Indonesia," kata Purnomo.Impor minyak mentah dari perusahaan minyak Aramco Arab Saudi ini akan menghasilkan kerosin, premium dan solar.Indonesia juga akan melakukan kerja sama investasi di wilayah teluk ini dengan pola investasi downstream (sektor hilir) bukan upstream (hulu). "Karena kalau di upstream, Pertamina tak akan bisa masuk," kata Purnomo.Sebelumnya sejumlah kalangan seperti, Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) menilai, pemerintah harus mengambil langkah radikal untuk segera menghentikan ekspor minyak. Hal ini untuk mengamankan kebutuhan dalam negeri, seperti kebijakan yang dilakukan terhadap penjualan gas. Pemerintah diminta menggunakan minyak sebagai penggerak roda perekonomian di dalam negeri.Penghentian ekspor minyak tersebut, untuk mengurangi beban subsidi yang terus meningkat karena melonjaknya harga minyak. LP3ES juga menilai sangat paradoks, melihat Indonesia sebagai penghasil minyak tapi perekonomiannya terpuruk. Ketika harga minyak tinggi yang mengakibatkan subsidi BBM membengkak maka harga BBM naik dan perekonomian melambat. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads