Inflasi Turki Gila-gilaan Tembus 36%, Tertinggi Nyaris 2 Dekade

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 04 Jan 2022 08:55 WIB
Bulgarian tourists walk to their cars with shopping bags in Edirne, near Bulgaria border, in Turkey, Friday, Dec. 24, 2021. Bulgarian shoppers are crossing Turkey’s western border in packed cars and buses, taking advantage of a declining Turkish lira to fuel their own shopping sprees. Their first stop is the currency exchange and then its off to the markets and grocery stores in the northwestern city of Edirne. (AP Photo/Emrah Gurel)
Foto: AP/Emrah Gurel
Jakarta -

Inflasi Turki secara tahunan berada di level tertinggi dalam 19 tahun. Hal ini menjadi peringatan atas kebijakan presidennya Recep Tayyip Erdogan.

Dikutip dari BBC, Selasa (4/1/2022), inflasi mencapai lebih dari 36% pada Desember yang dipicu oleh transportasi, makanan dan bahan pokok lainnya. Kondisi ini menghabiskan anggaran rumah tangga.

Kebijakan yang ditempuh Turki berbeda dengan negara lain. Sebagian besar bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, tapi Turki melakukan sebaliknya.

Hal ini menunjukkan, jatuhnya lira karena Tayyip Erdogan memprioritaskan ekspor daripada stabilitas mata uang.

Lira sendiri merosot 44% terhadap dolar tahun lalu. Kemudian, anjlok lagi sebanyak 5% pada hari Senin.

Melemahnya lira membuat impor menjadi lebih mahal, mulai dari energi hingga banyak bahan baku yang diubah pabrikan untuk diekspor.

Erdogan sendiri menggambarkan suku bunga sebagai ibu dan ayah dari segala kejahatan. Ia telah menggunakan kebijakan yang tak lazim untuk meredam harga termasuk intervensi di pasar valuta asing.

Dalam pidatonya pada hari Senin, dia mengatakan Turki sedang melalui transformasi ekonomi dan naik ke liga berikutnya. Lanjutnya, Turki akan menuai buah terutama dalam ekspor dari upaya dan kerja keras dalam 20 tahun terakhir untuk meningkatkan perdagangan luar negeri.

Sementara, seorang ekonom memperkirakan bahwa inflasi bisa mencapai 50% pada musim semi kecuali arah kebijakan moneter dibalik.

"Tarif harus segera dan agresif dinaikkan karena ini mendesak," kata Ozlem Derici Sengul, founding partner di Spinn Consulting, di Istanbul.

(acd/eds)