Lagi Cari Duit buat Bayar Utang, Saham Evergrande 'Digembok'

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 04 Jan 2022 09:32 WIB
Evergrande
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Pengembang raksasa China, Evergrande menangguhkan sementara (suspensi) perdagangan sahamnya di Hong Kong. Sebab, investor tengah menunggu berita tentang rencana restrukturisasi.

Dikutip dari BBC, Selasa (4/2/2022), pernyataan ke bursa tak memberikan alasan terkait dengan penghentian perdagangan saham tersebut.

Evergrande sendiri memiliki utang lebih dari US$ 300 miliar atau setara Rp 4.260 triliun (asumsi kurs Rp 14.200) dan tengah berebut untuk mengumpulkan uang tunai dengan menjual aset dan saham untuk membayar suplier dan kreditur.

Pekan lalu, perusahaan membatalkan rencana untuk membayar investor dalam produk wealth management.

Senin malam, Evergrande mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima perintah dari pihak berwenang di Kota Danzhou, Provinsi Hainan pada 30 Desember untuk menghancurkan 39 bangunan yang sedang dibangun di proyek Ocean Flower Island.

Alasan perintah pembongkaran belum diketahui. Namun, media lokal melaporkan bahwa bangunan itu dibangun secara ilegal.

Evergrande mengatakan pada hari Jumat bahwa setiap investor dalam produk wealth management dapat menerima US$1.257 setiap bulan sebagai pembayaran pokok selama tiga bulan terlepas dari kapan investasi tersebut jatuh tempo.

Perusahaan sebelumnya tidak menyebutkan jumlah apapun dan telah setuju untuk membayar kembali 10% dari investasi pada akhir bulan ketika produk jatuh tempo.

Evergrande dalam sebuah postingan di situs web menyatakan, kondisi sedang tidak memungkinkan dan akan secara aktif mengumpulkan dana. Perusahaan memperbaharui rencana pembayaran pada akhir Maret tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Pekan lalu, Evergrande tidak melakukan pembayaran bunga atas obligasi luar negerinya. Obligasi global perusahaan senilai US$19 miliar dianggap gagal bayar oleh lembaga pemeringkat setelah melewati tenggat waktu pembayaran bulan lalu.

Evergrande menangguhkan sahamnya pada awal Oktober dan mengatakan langkah itu jelang pengumuman yang berisi informasi orang dalam tentang transaksi besar. Ada laporan pada saat itu bahwa perusahaan real estate saingannya, Hopson Development akan membeli 51% saham di unit layanan propertinya.

Namun, akhir bulan itu Evergrande mengatakan bahwa kesepakatan senilai US$2,6 miliar telah gagal karena mereka tidak dapat menyetujui persyaratan kesepakatan.

Saham Evergrande kehilangan hampir 90% nilainya tahun lalu karena investor menjadi semakin khawatir tentang masa depannya.

(acd/eds)