Duh! Sektor Properti China di Ujung Tanduk

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 21 Des 2021 14:28 WIB
Raksasa properti China, Evergrande tengah disorot karena terancam bangkrut imbas kesulitan bayar utang. Sang pendiri perusahaan, Xu Jiayin pun ikut jadi sorotan
Foto: AP Photo
Jakarta -

Beberapa waktu lalu raksasa properti di China, Evergrande terbelit utang ratusan triliun. Kondisi tersebut bikin sektor industri properti di negeri tirai bambu itu di ujung tanduk karena dampak dari krisis di Evergrande sudah 'menular' ke sejumlah sektor di China.

Misalnya industri baja yang merupakan salah satu sektor terbesar di China. Dikutip dari Reuters disebutkan krisis Evergrande ini harus menjadi peringatan untuk para pemangku kebijakan.

Pasalnya industri baja ini akan berdampak pula ke sektor lain seperti industri semen, kaca hingga peralatan rumah tangga.

Apalagi saat ini harga baja juga sedang merosot ke level terendah karena berkurangnya permintaan di sektor konstruksi. Di sisi lain harga saham produsen baja juga mengalami penurunan.

Kondisi ini disebut menjadi salah satu penentu kebijakan yang harus diperhatikan dengan seksama oleh pemerintah China. Pedagang baja di Beijing Qi Xiaoliang mengungkapkan biasanya dia menyimpan produksi baja pada musim dingin karena harga yang lebih rendah.

"Lalu kami menjualnya setelah liburan tahun baru ketika konsumsi kembali menggeliat. Tapi kami tidak melakukan itu tahun ini karena masih adanya ketidakpastian di pasar real estat untuk tahun 2022 dan belum ada perkiraan akan membaik hingga akhir tahun depan," jelasnya dikutip dari Reuters, Selasa (21/12/2021).

Pada akhir tahun ini memang sektor properti di China sangat terpukul. Apalagi dengan kasus raksasa properti yang terancam gagal bayar utang, konsumsi yang melemah hingga pasokan rumah yang tidak terjual di 100 kota besar di China sudah menyentuh level tertinggi selama lima tahun.

Bahkan tahun depan permintaan rumah diramal masih rendah. Kondisi ini akan memukul produsen perumahan dan industri pelengkapnya.

Seperti semen dan bahan konstruksi lainnya. Selain itu hal ini juga berdampak pada produksi lemari es yang secara bulanan terus mengalami penurunan.

(kil/dna)