Krisis Utang Evergrande Bakal Jadi Lehman Brothers Jilid II?

ADVERTISEMENT

Krisis Utang Evergrande Bakal Jadi Lehman Brothers Jilid II?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 20 Des 2021 08:28 WIB
Raksasa properti China, Evergrande tengah disorot karena terancam bangkrut imbas kesulitan bayar utang. Sang pendiri perusahaan, Xu Jiayin pun ikut jadi sorotan
Foto: AP Photo
Jakarta -

Krisis utang raksasa properti China, Evergrande senilai US$ 300 miliar menyita perhatian publik. Banyak yang membandingkan krisis utang ini dengan momen krisis Lehman Brothers.

Dilansir dari BBC, Senin (20/12/2021), Beijing menangani situasi krisis ini dengan cara yang sangat berbeda dengan bagaimana Washington menangani kebangkrutan raksasa perbankan investasi Lehman Brothers pada awal krisis keuangan global pada 2008.

Saat ini, Evergrande sendiri sudah mengumumkan bahwa mereka mungkin tidak dapat memenuhi semua kewajiban keuangannya. Perusahaan yang dilanda krisis itu juga gagal membayar beberapa obligasi luar negerinya.

Sekarang perusahaan itu dilaporkan sedang memasuki proses restrukturisasi utang dengan otoritas China yang mungkin termasuk penjualan beberapa aset pribadi pendirinya.

Menurut Motwani, analis Silk Road Research mengatakan Evergrande mengalami krisis setelah terkena kebijakan tiga garis merah.

"Ketika kebijakan 'tiga garis merah' diumumkan lebih dari setahun yang lalu, jelas bahwa Evergrande adalah salah satu pelanggar terburuk, jadi reaksi di China adalah 'ini sudah lama datang," kata Motwani.

Tiga garis merah adalah serangkaian ambang batas utang yang membatasi kemampuan pengembang properti tertentu untuk meminjam. Selama beberapa dekade, sektor properti telah melakukan banyak pinjaman yang tidak terkendali. Sesuatu yang oleh bank sentral China, People's Bank of China (PBOC) dinilai sebagai langkah sembrono.

Perbedaan utama krisis Evergrande dan Lehman Brothers adalah pada peran pemerintah. Di AS pemerintah menilai perlu untuk bertindak. Mereka harus mengeluarkan undang-undang agar memiliki wewenang untuk campur tangan, tetapi berbeda dengan pemerintah China yang enggan melakukan hal tersebut.

Beijing selama ini mengendalikan pasar properti negara itu melalui bank-bank milik negara. Mereka juga memiliki akses soal data pengembang mana yang kemungkinan besar akan gagal bayar.

China menjadi jauh lebih selektif dengan tindakannya daripada AS selama krisis keuangan global. Tidak seperti Washington yang menyelamatkan beberapa bank terbesar di dunia, Partai Komunis China mengambil pendekatan yang sedikit demi sedikit.

"Beijing seperti ahli bedah yang mengoperasi tumor yang berpikir 'apa yang harus saya selamatkan?'," kata Alicia Garcia Herrero, kepala ekonom untuk Asia-Pasifik di bank investasi Natixis.

Bagi pemerintah China, sangat penting bahwa operasi sehari-hari Evergrande tetap utuh dan berjalan. Hal ini bertujuan untuk memastikan perusahaan dapat menyelesaikan rumah yang sedang dibangunnya. Hal itu dilakukan agar pembeli properti biasa tidak terpengaruh dan kepercayaan pada pasar properti tidak rusak parah.



Simak Video "Hutama Karya Kembangkan Kompos dari Maggot di JTTS"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT