Eddie Widiono Ditahan, Mega Proyek PLN Tetap Jalan
Jumat, 05 Mei 2006 10:34 WIB
Jakarta - Penahanan Dirut PLN Eddie Widiono Suwondho tidak akan menyurutkan program pemerintah dan PLN untuk membangun proyek pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebesar 10 ribu MW. Proyek itu tetap akan jalan karena telah ditandanganinya MoU antara pemerintah Cina dan Indonesia. Hal ini juga akan berlaku bagi proyek-proyek pembangunan pembangkit lainnya yang saat ini terus berjalan."Tidak ada masalah proyek itu akan tetap jalan," kata Pelaksana Tugas Dirut PLN Djuanda Nugraha Ibrahim dalam perbincangannya dengan detikcom, Jumat (4/5/2006) malam.Lagi pula, kata Djuanda, persoalan hukum yang tengah dihadapi Eddie Widiono saat ini masih belum mempunyai kekuatan hukum tetap sehingga tidak berdasar jika hal itu dikaitkan dengan pelaksanaan proyek tersebut. "Kita harus mengedepankan azas praduga tak bersalah," ujarnya.Terlebih lagi, lanjut Djuanda, sejumlah proyek itu masih dalam MoU, sehingga masih terlalu awal jika dikaitkan kalau proyek ini tidak berjalan hanya karena penahanan Eddie Widiono. "Ini kan masih Mou, belum masuk pada binding. Kita juga masih akan melakukan diskusi lanjutan dengan Cina," katanya.Pembicaraan lanjutan yang lebih serius itu antara lain mengenai, bagaimana procurement-nya, pelaksanaan tender atau penunjukkan langsung dan lain sebagainya. "Begitu juga dengan pembiayaan masing-masing proyeknya masih akan dibicarakan lagi," ujarnya.Djuanda mengingatkan, proyek yang dicanangkan pemerintah ini harus tetap dilaksanakan mengingat pentingnya proyek ini untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM)-nya. "Konsumsi BBM PLN saat ini sekitar 10 juta kilo liter, jika proyek ini jalan maka tahun 2009 konsumsinya hanya sekitar 1 juta kilo liter. Itu hanya pada saat beban puncak saja," ujarnya.Makanya proyek ini akan mengurangi beban subsidi karena hanya memakai bahan bakar sekitar 15 persennya saja jika dibandingkan dengan menggunakan minyak.Proyek yang ditandatangani dengan pemerintah Cina itu, diakui Djuanda, saat ini baru sebatas MoU. Dalam 4 MoU yang ditandatangani itu ditetapkan beberapa hal penting antara lain soal jadwal yang mereka janjikan lebih cepat sekitar 30 sampai 36 bulan sejak proyek ditandatangani. Selain itu soal harga yang lebih murah serta kesediaan Cina untuk bekerjasama dengan perusahaan lokal di Indonesia."Mereka akan berupaya mencari pendanaan yang diperkirakan akan memakan investasi sebesar US$ 7 miliar," ujarnya.
(qom/)











































