Warganya Masuk Jurang Kemiskinan Akut, Afghanistan Butuh Rp 71 T

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 11 Jan 2022 19:30 WIB
Ekonomi Afghanistan yang bergantung pada bantuan itu sudah tertatih-tatih ketika Taliban merebut kekuasaan. Kondisi ini diperparah dengan kekeringan dan virus corona. Herat, Afghanistan, (12/12/2021). (AP Photo/Mstyslav Chernov)
Foto: AP/Mstyslav Chernov
Jakarta -

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggalang dana lebih dari US$ 5 miliar untuk Afghanistan demi menangkal bencana kemanusiaan. Angka tersebut setara Rp 71 triliun (asumsi kurs: Rp 14.300).

Afghanistan kini dilanda krisis kemanusiaan. Setidaknya lebih dari setengah penduduk negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan. Disebutkan bahwa tiga perempat dari 40 juta penduduknya jatuh ke dalam kemiskinan akut.

"Pesan saya mendesak: Jangan tutup pintu bagi orang-orang Afghanistan," kata koordinator bantuan darurat PBB, Martin Griffiths disadur detikcom dari New York Times, Selasa (11/1/2022).

Tanpa bantuan internasional, satu juta anak Afghanistan menghadapi kelaparan akut dan delapan juta orang lainnya tinggal menunggu waktu untuk mengalami kelaparan.

Seruan penggalangan dana itu terdiri dari US$ 4,4 miliar untuk bantuan kemanusiaan di Afghanistan, setengahnya untuk makanan di negara di mana lebih dari 700.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena pertempuran tahun lalu, menambah hampir 3 juta orang yang sudah mengungsi akibat perang.

PBB mencari US$ 623 juta lagi untuk mengatasi sekitar 2,5 juta pengungsi Afghanistan di negara-negara tetangga, terutama Iran dan Pakistan.

Iran mengatakan bahwa sekitar setengah juta warga Afghanistan telah melarikan diri ke sana sejak pengambilalihan Taliban. Kepala badan pengungsi PBB, Filippo Grandi tidak mengkonfirmasi angka itu, tetapi menggarisbawahi bahaya arus besar pengungsi lebih lanjut jika komunitas internasional gagal menstabilkan kondisi di Afghanistan.

PBB mengumpulkan ratusan juta dolar untuk Afghanistan pada September setelah pengambilalihan Taliban. Seruan baru ini akan menguji kesediaan para pendonor untuk mendukung negara yang telah melakukan eksekusi singkat, sangat membatasi hak-hak perempuan dan menekan outlet media independen.

Griffiths menekankan bahwa bantuan itu akan dikirim langsung ke badan-badan kemanusiaan dan berjanji bahwa uang itu tidak akan bocor ke badan-badan yang dikendalikan Taliban.

Namun, bantuan kemanusiaan hanyalah tindakan sementara. Dia menambahkan bahwa upaya luas diperlukan untuk menghidupkan kembali sistem perbankan, memulihkan bisnis dan menstabilkan ekonomi yang telah runtuh di bawah sanksi internasional dan pembekuan cadangan internasional Afghanistan.

Tetapi jika donor internasional tidak menanggapi dan mengatasi krisis ekonomi Afghanistan sekarang, PBB akan dipaksa untuk meminta lebih banyak bantuan dalam setahun.

"Permohonan ini dapat memberikan semacam harapan bahwa wilayah itu tidak akan lagi menderita penyakit yang telah dideritanya selama 40 tahun, 40 tahun ketidakamanan," tambah Griffiths.

(toy/dna)