Taliban Belum Bayar Tagihan Listrik, Kabul Terancam Gelap Gulita

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 04 Okt 2021 21:46 WIB
Taliban fighters walk at the entrance of the Eidgah Mosque after an explosion in Kabul, Afghanistan, Sunday, Oct. 3, 2021. A bomb exploded in the entrance of the mosque in the Afghan capital on Sunday leaving a
Foto: AP Photo/Felipe Dana
Jakarta -

Ibu kota Afghanistan akan mengalami kegelapan secara harfiah. Sebab Taliban yang menjadi penguasa baru negara itu belum melakukan pembayaran terhadap pemasok listrik di Asia Tengah. Mereka juga belum melakukan penarikan biaya listrik dari para pengguna di negara tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Daud Noorzai yang merupakan mantan Chief Executive perusahaan listrik milik negara Afghanistan, Da Afghanistan Breshna Sherkat (DABS). Noorzai sendiri undur diri dari jabatannya sekitar 2 minggu setelah Taliban menguasai Afghanistan.

"Konsekuensinya akan berlaku di seluruh negeri, tetapi terutama di Kabul. Akan ada pemadaman dan itu akan membawa Afghanistan kembali ke zaman kegelapan dalam hal listrik dan telekomunikasi," kata Noorzai dikutip dari Fox News, yang menyadur dari Wall Street Journal, Senin (4/10/2021).

Separuh dari total konsumsi listrik di Afghanistan sendiri merupakan impor dari Uzbekistan, Tajikistan dan Turkmenistan. Iran juga ikut menyumbang pasokan listrik ke bagian barat Afghanistan.

Afghanistan sebenarnya juga memproduksi listrik yang dibuat melalui pembangkit listrik tenaga air. Namun produksinya terganggu karena negara itu mengalami kekeringan. Afghanistan tidak memiliki jaringan listrik nasional, dan Kabul sebagai ibu kota, hampir sepenuhnya bergantung pada listrik impor dari Asia Tengah.

Kondisi ini akan semakin buruk jika para pemasok listrik Asia Tengah, khususnya Tajikistan, memutus pasokan listrik ke DABS karena tak mampu membayar tagihan. Selain itu Tajikistan juga memiliki hubungan yang tidak baik dengan Taliban.

Tajikistan telah memberikan perlindungan kepada para pemimpin perlawanan anti-Taliban, seperti mantan Wakil Presiden Amrullah Saleh, dan baru-baru ini mengerahkan pasukan tambahan ke perbatasannya dengan Afghanistan.

(das/dna)