Dugaan Korupsi Garuda Muncul di Tengah Rencana 'Bersih-bersih' Armada

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 12 Jan 2022 13:18 WIB
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT Garuda Indonesia (Persero) akan melakukan pengurangan jumlah armada pada tahun ini sebagai bagian untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Di tengah rencana perbaikan kinerja ini, dugaan kasus korupsi pengadaan pesawat pun terendus.

Dalam catatan detikcom, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, jumlah pesawat di tahun 2019 sebanyak 202 pesawat dan akan dikurangi menjadi 134 pesawat di tahun 2022. Artinya, ada pengurangan sebanyak 68 pesawat.

"Jumlah pesawat juga akan menurun drastis, detilnya ada di bawah itu, dari 202 pesawat itu menurun di 2022 menjadi 134 pesawat karena memang sebagian sudah di-grounded juga oleh lessor," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VI, Selasa (9/11/2021) lalu.

"Jenis pesawat akan dikurangi dari 13 jenis, jadi hanya 7," tambahnya.

Strategi lain yang ditempuh adalah mengoptimalkan rute Garuda. Pria yang akrab disapa Tiko ini mengatakan, Garuda akan fokus pada rute domestik dan mengurangi rute internasional secara signifikan.

"Internasional hanya beberapa yang di-serve itu pun sebagian besar karena ada volume kargo yang baik," katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan terus melakukan negosiasi ulang kontrak-kontrak pesawat. Serta, meningkatkan kontribusi kargo.

"Harapannya memang tadi kami sampaikan sewa pesawat yang melebihi benchmark internasional kita akan tekan serendah mungkin sehingga menyamai benchmark international," katanya.

Sementara, dalam keterangan perusahaan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada November 2021, jumlah pesawat yang digunakan Garuda Indonesia untuk operasional totalnya 125 pesawat. Pesawat itu terdiri 119 pesawat sewa dan 6 pesawat milik perseroan.

Pesawat itu yakni B737-800 sebanyak 57 pesawat, CRJ1000 sebanyak 18 pesawat, ATR72-600 sebanyak 13 pesawat, B777-300 sebanyak 10 pesawat, A330-300 sebanyak 11 pesawat (disamping 6 pesawat milik perseroan).

Kemudian, ada A330-200 sebanyak 7 pesawat dan A330-900 sebanyak 3 pesawat.

Dalam keterangan itu disebutkan, perusahaan terus melakukan negosiasi dengan lessor sebagai bagian dari upaya restrukturisasi perusahaan. Kemudian, pesawat yang tidak digunakan dalam proses perawatan.

"Status pesawat yang saat ini tidak digunakan untuk operasional adalah dalam proses maintenance/perawatan sesuai prosedur yang berlaku," tulis keterangan tersebut.

(acd/zlf)