Harga Kedelai Melonjak, Tahu Tempe di RI Bakal Mahal?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 19 Jan 2022 22:35 WIB
Kenaikan harga kedelai impor berdampak pada harga tempe dipasaran. Kementerian Pedagangan pun memberi sinyal bahwa harga tahu dan tempe akan kembali naik.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Harga tahu tempe dijamin tidak naik meski harga kedelai dunia naik. Kok bisa, apa alasannya?

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan saat ini ada kenaikan harga kedelai. Namun karena stok yang mencukupi, menurut Oke, harga kedelai masih tetap terjangkau.

"Kementerian Perdagangan bersama seluruh pelaku usaha kedelai nasional menjamin harga kedelai tetap terjangkau dan stok kedelai cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pengrajin tahu dan tempe nasional, meskipun harga kedelai dunia masih cukup tinggi," ungkap Oke dalam keterangan tertulis Kemendag, Rabu (19/1/2022).

Oke menjelaskan lonjakan harga kedelai yang terjadi saat ini disinyalir merupakan dampak cuaca ekstrim yang terjadi di negara produsen kedelai seperti Argentina dan Brasil.

Selain itu, Kenaikan harga juga terjadi karena stok kedelai global mulai diborong Amerika Serikat dan China usai badai Ida.

"Kami berharap kondisi peningkatan harga kedelai dampak cuaca ekstrim ini tidak berlangsung lama. Hal tersebut mengingat adanya potensi kenaikan produksi kedelai dunia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," lanjut Oke.

Berdasarkan data Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai dunia pada minggu kedua Januari 2022 sekitar US$ 13,77/bushels atau setara US$ 505/ton naik dari kondisi minggu pertama Januari 2022 yaitu US$ 13,15/bushels atau setara US$ 483/ton.

Sehingga, landed price diperkirakan berada di kisaran Rp 8.500/kg dan harga di tingkat importir diperkirakan Rp 9.300/kg. Sementara itu, menurut informasi Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo), stok kedelai di tingkat importir anggota Akindo saat ini sekitar 400 ribu ton.

Rinciannya, stok awal Januari 2022 sebanyak 150 ribu ton dan stok yang akan masuk di pertengahan Januari 2022 sebanyak 250 ribu ton. Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar dua bulan mendatang.

(hal/hns)