ADVERTISEMENT

Rahasia di Balik Ukuran Snack yang Makin Lama Kian Ciut

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 21 Jan 2022 15:18 WIB
Contoh snack atau makanan ringan yang ukurannya mengecil
Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta -

Ukuran kemasan snack atau makanan ringan makin hari makin menciut. Hal ini karena produsen disebut menggunakan strategi downsizing untuk mempertahankan produk dengan harga yang tetap.

Direktur Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan strategi downsizing ini adalah hal yang biasa digunakan oleh banyak perusahaan.

"Strategi untuk mengecilkan ukuran produk ini disebut dengan downsizing," kata Bhima saat dihubungi detikcom, Jumat (21/1/2022).

Bhima mengatakan biasanya strategi ini digunakan untuk menyesuaikan dengan daya beli masyarakat di suatu wilayah.

Dia menyebutkan, strategi downsizing ini makin ramai dilakukan ketika kondisi ekonomi sedang lesu. "Ini juga menjadi cara untuk mempertahankan marketshare, yaitu mengecilkan produk dan harga tidak naik," jelas Bhima.

Kondisi ini jga dipengaruhi oleh inflasi yang terjadi di sisi penawaran. Kemudian pengaruh harga bahan baku seperti minyak goreng dan gandum yang mengalami kenaikan turut menekan harga produksi.

"Apalagi kalau biaya transportasi mahal, ini juga jadi faktor yang krusial untuk menciutkan produk. Tahun ini, inflasi diperkirakan tembus 4% lebih dan ini juga jadi pertimbangan produsen makanan ringan untuk mengeluarkan varian produk yang lebih kecil," ujar dia.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengungkapkan memang para produsen dan konsumen memiliki cara masing-masing untuk menyikapi inflasi. Misalnya dari sisi produsen ada yang menaikkan harga dan ada yang tidak namun mengambil langkah efisiensi produksi. "Ada juga yang menyesuaikan dari sisi kualitas dan kuantitas produk," ujarnya.

Sedangkan dari sisi konsumen, penyesuaian ini bisa berupa menaikkan anggaran belanja kebutuhan, mengkonsumsi lebih sedikit atau beralih ke barang dengan kualitas yang lebih rendah.

"Penyesuaian ini bergantung pada preferensi masing-masing dengan mempertimbangkan kondisi spesifik yang dihadapi," jelas Dody.

Tahun 2022 bank sentral memperkirakan inflasi berada dalam kisaran sasaran 3,0±1% untuk 2022.

Dia menyebut dari sisi demand, kenaikan permintaan dapat direspons sisi pasokan dan ekspektasi inflasi lebih terjaga. Kemudian dari sisi supply, pasokan terutama bahan kebutuhan pokok dapat dijaga dengan baik. Selanjutnya, nilai tukar rupiah yang stabil dapat mengurangi dampak dari imported inflation.

"Pemerintah di tingkat pusat dan daerah bersama dengan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dalam forum TPIP dan TPID dalam rangka memitigasi sumber-sumber tekanan inflasi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasarannya," jelas dia.

(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT