Saham dan Kripto Mulai Lesu, Saatnya Borong Emas Lagi?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 28 Jan 2022 08:37 WIB
Petugas kebersihan yang temukan emas batangan Rp4,6 miliar mungkin dibolehkan memilikinya
Ilustrasi/Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Di balik lesunya harga saham dan anjloknya harga Bitcoin, emas nampaknya menjadi komoditas yang tahan banting. Di awal tahun ini, harga emas nampaknya tidak mengalami penurunan signifikan.

Dilansir dari CNN, Jumat (28/1/2022), harga emas dunia cenderung menetap di sekitar US$ 1.800 atau sekitar Rp 25,7 juta per ounce. Bila dikonversikan ke gram 1 ounce berarti 31 gram artinya, 1 gram emas harganya mencapai Rp 827 ribuan per gram.

Emas sering dipandang sebagai komoditas yang tahan banting terhadap kenaikan suku bunga dan inflasi. Kembalinya volatilitas pasar tahun ini, yang telah merugikan pasar saham dan aset kripto, dapat menyebabkan kenaikan lebih lanjut untuk emas.

"Kripto mencuri semua oksigen dari emas tahun lalu, dan orang-orang masuk ke kripto karena banyak alasan yang sama seperti emas," kata Robert Minter, direktur Strategi Investasi ETF di abrdn.

Minter mencatat kenaikan Bitcoin dkk bagaikan membuktikan aset kripto menjadi komoditas yang tahan banting terhadap inflasi. Namun nyatanya, sejak pertengahan tahun lalu hal itu tidak terjadi.

"Investor mulai menyadari bahwa Bitcoin dkk lebih merupakan aset berisiko. Bukan alat diversifikasi portofolio dan justru lebih banyak menyita energi," kata Minter.

Emas diprediksi akan tetap menjadi taruhan yang lebih baik bagi investor yang mulai mencari perlindungan dari kenaikan suku bunga The Fed. Bank sentral Amerika Serikat itu memang sedang berjuang melawan lonjakan harga konsumen dengan menaikkan suku bunga.

"Ada banyak lindung nilai inflasi. Emas bertahan dengan baik. Investor bisa reli karena kekhawatiran tentang inflasi. Emas harus menjadi bagian dari portofolio yang terdiversifikasi," kata Lauren Goodwin, ekonom dan ahli strategi portofolio di New York Life Investments.

Beberapa ahli kini memprediksi emas akan mencapai rekor tertinggi baru akhir tahun ini. Apalagi jika kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga global terus terjadi. Belum lagi muncul kekhawatiran tentang yang akan terjadi pada harga minyak di tengah ketegangan Rusia dan Ukraina.

"Emas tetap menjadi tempat berlindung yang aman dan asuransi terhadap risiko geopolitik, dan risiko inflasi yang terus-menerus tinggi juga positif untuk emas," ungkap André Christl, CEO Heraeus Precious Metals.

Christl berpendapat bahwa emas bisa naik menjadi sekitar US$ 2.120 atau sekitar Rp 30,31 juta per ounce akhir tahun ini. Bila dikonversikan ke gram harganya mencapai Rp 974 ribuan.

Simak video 'Wamendag Minta Masyarakat Laporkan Investasi Kripto Bodong':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/eds)