G20 2022

Vaksinasi di Afrika Rendah Jadi Ancaman Dunia, Negara G20 Turun Tangan

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 28 Jan 2022 15:15 WIB
YOGYAKARTA, INDONESIA - JANUARY 13: A health worker prepares a dose of the AstraZeneca COVID-19 booster vaccine during the booster vaccination program on January 13, 2022 in Yogyakarta, Indonesia. While Southeast Asias vaccination programs have gathered pace, many countries in the region are yet to hit the high vaccination rates seen in developed nations. The emergence of Omicron in the region is adding to the urgency in countries like Indonesia, which has only fully vaccinated about 42 percent of its population as of last week, according to publicly available vaccination data. Some places in the region, such as Indonesia and Thailand, have rolled out a booster program alongside their primary vaccination programs in an attempt to aggressively bridge the gap. (Photo by Ulet Ifansasti/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Ulet Ifansasti
Jakarta -

Vaksinasi COVID-19 di Afrika masih sangat rendah. Hal itu menjadi ancaman dunia. Oleh karenanya dalam Presidensi G20 akan dibahas percepatan vaksinasi.

Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Internasional, Wempi Saputra menjelaskan Indonesia ingin ada kolaborasi yang lebih kuat. Sebab, penanganan pandemi saat ini masih dipertanyakan.

"Vaksinasi di Afrika masih kurang dari 10%, risiko penyebaran ke global masih tetap tinggi. Makanya di dalam G20 itu dibahas namanya program percepatan vaksinasi di Afrika," kata dia saat menggelar diskusi dengan wartawan di Jakarta Pusat, Jumat (28/1/2022).

Padahal, lanjut dia, produksi vaksin di dunia saat ini bisa mengakselerasi vaksinasi sebanyak 80% penduduk dunia. Sayangnya tidak semua negara memiliki akses dan kesempatan yang sama.

"Yang jadi masalah (vaksin) nggak semuanya terkonsentrasi ke semua negara kan? Hanya di negara maju saja. Jepang mungkin sudah kelebihan, Australia, Kanada, AS sudah kelebihan. Tapi begitu ngomongin Afrika, nggak dapat," tuturnya.

Bahkan kalaupun Afrika menerima vaksin, keberadaan dokter untuk melakukan vaksinasi, peralatan untuk mendistribusikan vaksinnya masih dipertanyakan.

Oleh karena itu keberadaan G20 diharapkan dapat membantu memecahkan masalah di Afrika. Tujuannya agar akselerasi vaksinasi di sana bisa dipercepat. Itu dapat dilakukan melalui inisiatif access to provide to accelerator.

"Ini adalah modalitas untuk membantu percepatan vaksin di negara-negara miskin khususnya, karena negara miskin di Afrika dia juga jalan-jalan ke luar negeri, karena mungkin badannya sehat, kuat, santai saja dia kena COVID. Begitu menularkan ke orang lain meninggal orangnya. Risiko ini dibahas (dalam Presidensi G20)," tambah Wempi.

(toy/ara)