Pertumbuhan Ekonomi RI Melambat

Triwulan I-2006

Pertumbuhan Ekonomi RI Melambat

- detikFinance
Senin, 15 Mei 2006 15:58 WIB
Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2006 hanya mencapai 4,59 persen (year on year). Padahal target pertumbuhan yang dipatok pemerintah pada tahun 2006 sebesar 6,2 persen. Angka pertumbuhan tersebut juga berarti jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2005 yang sebesar 6,25 persen. Angka PDB triwulan I-2006 berdasarkan harga konstan tahun 2000 yang sebesar Rp 447,4 triliun adalah Rp 766,1 triliun."Jadi kalau dibandingkan, ada perlambatan atau kurang optimal. Padahal kan targetnya 6,2 persen. Bayangkan, nanti triwulan II, III, IV bagaimana?" ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo dalam konferensi pers di kantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (15/5/2006).Menurut Slamet, berdasarkan tren pertumbuhan ekonomi triwulan I selalu tinggi mengingat banyaknya pengeluaran baik dari masyarakat pada tahun baru atau perayaan keagamaan lainnya. Dan pada triwulan II, pertumbuhan ekonomi agak berkurang karena tidak ada kegiatan. Jadi berat mencapai target? "Ya berat. Soalnya triwulan I saja 4,59 persen. Triwulan II biasanya turun karena nggak ada kegiatan apa-apa. Triwulan III naik karena adanya biaya pendidikan. Bayangkan, triwulan I kayak gini," cetus Slamet. Berdasarkan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah tumbuh 14,14 persen dengan kontribusi 0,97 persen. Namun konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan yakni sebesar 3,24 persen karena daya beli yang menurun akibat imbas inflasi tinggi pada tahun 2005. Kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 1,91 persen. Sementara ekspor tumbuh 10,75 persen, dengan kontribusi 4,60 persen. Dari sisi sektoral, sektor riil yakni industri tumbuh relatif rendah hanya 2,01 persen. "Ini yang kita sebut sektor riilnya nggak bergerak. Sementara yang bergerak lebih banyak di bidang jasa misalnya pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 10,99 persen," tegas Slamet.Ada beberapa hal yang dcermati oleh BPS, di antaranya perlambatan di sektor riil. Namun dari sisi indikator makro moneter berkembang positif. "Berarti ada barrier antara moneter dan sektor riil. Industri manufaktur butuh perhatian. Daya beli masyarakat rendah dan investasi riil juga kurang kondusif. Tapi dari sisi moneter nilai tukar rupiah mengalami penguatan, dan IHSG pun cenderung menguat hingga 1.500," papar Slamet. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads