Bappenas Waswas Kasus TBC di RI, Minta Ada Tes Acak Lagi!

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 21 Feb 2022 15:55 WIB
Pemerintah berencana menghimpun anak-anak Indonesia ke dalam satu wadah. Wadah itu bernama Manajemen Talenta Nasional (MTN).
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengaku khawatir dengan tingginya kasus Tuberkulosis (TBC atau TB). Saat ini Indonesia tercatat menjadi yang tertinggi ketiga di dunia dengan penyakit tersebut.

Dengan tingginya kasus TBC di Indonesia, kata Suharso, bukan tidak mungkin jika nantinya beberapa negara mewajibkan menunjukkan surat bebas TBC. Hal ini dikhawatirkan bisa menghambat masyarakat yang mau mengambil pendidikan di luar negeri.

"Saya benar-benar worry soal ini karena bahaya sekali kalau kita sampai nanti setiap orang Indonesia ke luar negeri harus punya sertifikat bebas TB sebagaimana anak-anak Indonesia kalau mau sekolah ke luar negeri di beberapa tempat dimintakan bebas TB atau di tes di tempat mereka belajar," kata Suharso dalam diskusi publik Forum Masyarakat Statistik, Senin (21/2/2022).

Untuk itu, Suharso berharap adanya tes acak TBC lagi untuk menghindari terjadinya penularan. Masalahnya adalah saat ini alat-alatnya masih digunakan untuk tes COVID-19.

"Akan jadi penting tes cepat molekular yang alat-alatnya ada di seluruh Indonesia, yang sekarang masih digunakan untuk tes COVID itu kembali lagi trace back mengenai TB ini," tuturnya.

Selain TBC, Suharso juga menyoroti penyakit-penyakit lain seperti malaria hingga kusta. Dirinya ingin ada peningkatan sumber daya manusia (SDM) dalam hal kesehatan salah satunya dengan cara memberikan perhatian lewat imunisasi dasar lengkap.

"Malaria kita ingin mengeliminasi hampir semua kabupaten/kota sampai 2024, kusta demikian juga kita nomor 3 di dunia dan ini benar-benar kita harus memberikan atensi imunisasi dasar lengkap," tuturnya.

"2024 sebenarnya targetnya IDL mencapai 90%, tapi dengan adanya pandemi kemarin itu turun kapasitas untuk melakukan imunisasi dasar lengkap," tambahnya.

Suharso menggambarkan pemberian imunisasi di luar negeri tidak hanya diberikan kepada anak-anak, melainkan juga sampai orang dewasa sepanjang dia hidup. Rencananya juga akan ada peralihan pemberian imunisasi dari oral ke suntik.

"Kita baru 6 jenis vaksin termasuk di dalamnya untuk polio yang disuntikkan. Kita mau beralih ke yang disuntikkan dari yang melalui mulut, jadi melalui oral akan diganti melalui suntikan," bebernya.

(aid/ara)