Mau Jajal Bisnis Franchise Pakai Uang JHT? Simak Ini Dulu

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 25 Feb 2022 08:30 WIB
Businessman hand choose wooden blog with franchise marketing store icons for concept of business growth and branch expansion.
Foto: Getty Images/iStockphoto/eakrin rasadonyindee
Jakarta -

Nasib pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) sampai saat ini masih belum jelas. Aturan terbaru, pencairan JHT secara 100% hanya bisa dilakukan di usia 56 tahun. Namun, nyatanya Presiden Joko Widodo meminta aturan itu direvisi.

Nah JHT sendiri bisa saja digunakan untuk modal usaha bagi pekerja yang memutuskan untuk berhenti kerja ataupun di-PHK. Salah satu jalan pintas membuka usaha adalah dengan bergabung pada bisnis franchise.

CEO Baba Rafi Enterprise Hendy Setiono membagikan tips bagi para pekerja yang mau menggunakan dana JHT-nya untuk membuka franchise. Hal paling pertama yang harus diketahui bahwa ada dua jenis franchise.

Jenis yang pertama adalah franchise autopilot, pemodal hanya perlu menyetorkan modalnya saja ataupun menyiapkan tempat. Franchise akan diurus oleh pemilik merek sepenuhnya. Setiap keuntungan akan dibagi hasilnya antara pemodal dengan pemilik brand.

Jenis berikutnya adalah franchise reguler, pada jenis ini pemodal mengurus sendiri franchise-nya. Nantinya, dia akan mendapatkan bahan baku dan hak memakai brand. Karena mengurus sendiri maka jenis franchise ini keuntungan dimiliki sendiri oleh si pemodal.

"Nah ini kalau kita orangnya sibuk mending ambil skema autopilot, dia ada bagi hasil keuntungannya. Kalau yang mau repot bisa pakai cara kedua yang reguler, karena dikelola sendiri nggak perlu ada skema bagi hasil. Semua profit diberikan ke mitra," ungkap Hendy dalam acara d'Mentor detikcom.

Tips kedua dari Hendy adalah bagi yang mau terjun ke bisnis franchise harus pintar-pintar memilih brand. Analisa mendalam harus dilakukan pada brand yang menawarkan franchise. Misalnya saja analisa apakah bisnisnya bersifat tren belaka atau bisa bertahan dalam jangka panjang.

"Kita juga harus jeli pilih usahanya, ada yang sifatnya tren dan ada juga yang long term. Kita harus lihat background, analisa, dan identifikasi bisnisnya. Di sini lah kita butuh entrepreneur skill," kata Hendy.

Hendy juga menyarankan bila JHT digunakan untuk modal, jangan sampai semua uang yang ada dimasukkan untuk usaha. Harus ada yang bisa disimpan sebagai cadangan, menurutnya berbisnis pun belum tentu bisa memberikan pemasukan yang tetap seperti saat bekerja menjadi karyawan.

"Kita harus tahu mana yang harus disimpan sebagai cadangan dan mana yang buat bisnis. Jika ada risiko nggak work well, karena semua dana nggak all in dia bisa alokasikan cadangannya buat back up," ungkap Hendy.

Di sisi lain, perencana keuangan Safir Senduk mengatakan bagi yang mau buka usaha, umur 40-an menjadi sebetulnya menjadi masa keemasan. Apalagi yang memang mau menggunakan JHT sebagai modalnya, dengan anggapan JHT bisa dicarikan tanpa perlu menunggu umur 56 tahun.

"Saya selalu bilang gini, kalau saat ini Anda umur 40 tahun dan Anda start umur 21-22 sudah kerja sama orang. Kalau umur 40, 41, 45 masih juga Anda kerja sama orang, kayaknya sudah saatnya Anda buka usaha sendiri," kata Safir dalam acara yang sama.

Safir menilai di umur tersebut seseorang sudah tahu kelebihan dan kekurangan dirinya, sudah paham keahlian apa saja yang dimilikinya. Kalau mau bicara modal pun, dengan uang JHT saja mungkin uang yang terkumpul sudah cukup besar.

"Nah umur segitu kita sudah tahu kekuatan di mana, maunya kita apa, dan lain sebagainya. Kenapa masih perlu ke tempat kerja untuk mengurus bisnis orang lain," jelas Safir.



Simak Video "Modal Usaha dari JHT"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/das)