ADVERTISEMENT

Pengusaha Mal Minta Tarif PPN Naik Jadi 11% Ditunda

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 10 Mar 2022 22:50 WIB
Harga pakaian yang relatif murah di pasaran membuat jumlah limbah tekstil terus meningkat. Kini tren thrifting pun mulai bermunculan untuk kurangi limbah tekstil.
Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Jakarta -

Pengusaha mal yang tergabung dalam Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) meminta pemerintah menunda kenaikan PPN menjadi 11%. Kebijakan ini mulai berlaku per 1 April bulan depan.

Permintaan tersebut disampaikan untuk menghindari kenaikan harga di tingkat konsumen. APPBI menilai kenaikan PPN akan memicu kenaikan harga produk dan barang-barang di pusat perbelanjaan.

Belum lagi, kenaikan harga produk juga masih bisa terjadi selama ketegangan Rusia dan Ukraina masih berlanjut.

"Rencana kenaikan tarif PPN menjadi 11% sebaiknya ditunda karena akan semakin mendorong kenaikan harga produk dan barang sehingga berpotensi semakin sulit dijangkau oleh masyarakat terutama kelas menengah bawah," ujar APPBI dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (10/3/2022).

Selain itu serangan militer Rusia ke Ukraina disebut telah mengakibatkan berbagai tekanan dalam perekonomian, sehingga mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan dalam sektor perdagangan.

Di sisi lain, kenaikan harga produk dan barang menjadi salah satu ancaman utama dalam industri usaha ritel. Hal itu bisa terjadi karena rantai pasok ataupun rantai distribusi terganggu dan mengalami kenaikan biaya energi.

Ujungnya mengakibatkan bertambahnya biaya produksi yang dapat mengakibatkan kenaikan harga produk dan barang. APPBI juga menilai kondisi daya beli masyarakat masih belum pulih akibat pandemi yang telah memasuki tahun ketiga.

"Potensi kenaikan harga produk dan barang semakin terancam dengan rencana kenaikan tarif PPN dari 10% menjadi 11% yang akan berlaku efektif mulai 01 April 2022 yang akan datang," ujar APPBI.

(hal/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT