Ada 'Udang' di Balik Influencer Pamer Harta, Jangan Percaya!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 16 Mar 2022 17:45 WIB
Happy couple success in their owner small business online with package box and money
Foto: Getty Images/iStockphoto/tofumax
Jakarta -

Kasus investasi bodong yang menyeret influencer sedang ramai di Indonesia. Influencer menjadi seorang afiliator aplikasi investasi bodong berkedok binary option, mereka memasarkan dan mengajak masyarakat untuk ikut serta menginvestasikan uangnya dalam investasi bodong.

Yang jadi sorotan mereka juga melakukan flexing alias pamer kekayaan di sosial media demi menarik hati masyarakat luas. Satgas Waspada Investasi (SWI) mengingatkan agar masyarakat jangan lagi tertipu dengan kilauan flexing para influencer.

"Mereka flexing tadi, itu untuk membuat masyarakat ingin seperti mereka. Makanya ini diminati masyarakat, jadi masyarakat mau invest di sana. Ini modus memberikan pemahaman kalau dia untung investasi binary option. Janganlah tertarik seperti mereka," ungkap Ketua SWI Tongam L. Tobing dalam Instagram Live OJK, Rabu (16/3/2022).

Tongam menegaskan tidak ada kekayaan yang bisa didapatkan secara instan. Menurutnya, kekayaan itu hanya bisa didapatkan dari kerja keras bukan lah investasi dalam waktu yang cepat.

"Saya tegaskan, tidak ada sesuatu yang instan untuk didapatkan, semua itu hanya bisa didapatkan dengan kerja keras tentunya," tegas Tongam.

Dia juga mengingatkan kepada masyarakat sebelum melakukan investasi cermati dulu dua hal, 2 L kata Tongam, Logis dan Legalitas.

Paling pertama menurut Tongam bila ada tawaran investasi yang pertama harus dilakukan adalah mengecek legalitas lembaga pengelolanya terdaftar atau tidak.

"Cek dulu izinnya, legalitasnya. Cek ke OJK kalau itu di pasar keuangan, cek Kemendag untuk perdagangan komoditas dan berjangka, cek Kemenkop kalau itu koperasi. Kalau nggak ada legalitas jangan diikuti," tegas Tongam.

Berikutnya adalah kelogisan dari apa yang ditawarkan dari investasi tersebut. Bila ada yang menawarkan imbal hasil tinggi dan tidak masuk akal serta keuntungan dalam waktu cepat sudah pasti tawaran itu tidak logis.

Dia mencontohkan misalnya ada penawaran investasi yang menawarkan keuntungan fix dalam jangka waktu tertentu itu sudah pasti tidak logis.

"Investasi harus logis, sangat menyesatkan bila ada yang bilang bisa berikan keuntungan fix. Sangat aneh juga bila ada yang janjikan 1% keuntungan per hari. Rasionalitas dari tawaran investasi ini harus dibangun di tengah masyarakat," ungkap Tongam.



Simak Video "Polisi: Berkas Perkara Tersangka Investasi Bodong FBS Sudah Lengkap"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/das)