ADVERTISEMENT

Waketu DPR: Negara Kalah dan Gagal Tangani Kisruh Minyak Goreng

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 18 Mar 2022 11:45 WIB
Warga membeli minyak goreng kemasan di minimarket, Aren Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, Jumat (18/3/2022).
Foto: Istimewa
Jakarta -

Kisruh perdagangan minyak goreng dianggap sebagai bentuk kekalahan negara dan kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel. Dia bilang simbol kekalahan itu ditunjukkan oleh pernyataan Menteri Perdagangan M Lutfi.

"Seperti dikutip media, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui tak bisa melawan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di lapangan," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, dikutip Jumat (18/3/2022).

Sejak Desember 2021, terjadi kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng. Pemerintah kemudian menetapkan batas atas harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan (Rp 14 ribu per liter) dan minyak goreng curah (Rp 11,5 ribu per liter).

Pemerintah juga memberikan subsidi agar harga minyak goreng tetap terjangkau masyarakat. Namun kemudian terjadi kelangkaan minyak goreng. Masyarakat harus berebut untuk mendapatkan minyak goreng subsidi yang dijual melalui minimarket dan supermarket.

Masyarakat juga harus antre berjam-jam untuk mendapatkan minyak goreng subsidi melalui operasi pasar yang dilakukan sejumlah pihak. Bahkan akibat antre ini, ada warga yang meninggal setelah mengalami sesak napas. Atas kelangkaan ini, kementerian perdagangan bahkan menuduh ibu-ibu menimbun minyak goreng di dapur.

Akhirnya, mulai Kamis, 17 Maret 2022, pemerintah mencabut ketentuan HET dan menyerahkan harga minyak goreng kemasan sesuai mekanisme pasar, sedangkan untuk minyak goreng curah dikenakan HET Rp 14 ribu per liter. Setelah pengumuman itu, tiba-tiba minyak goreng hadir berlimpah di minimarket dan supermarket dengan harga sekitar Rp 22 ribu hingga Rp 24 ribu per liter.

"Kondisi ini menunjukkan negara kalah dan didikte oleh situasi. Indonesia adalah negara penghasil CPO dan minyak goreng terbesar di dunia. Jadi tidak ada masalah dengan produksi. Yang jadi masalah adalah meningkatnya permintaan dunia sehingga harga naik. Para pengusaha lebih memilih menjual produksinya keluar negeri dengan harga lebih mahal daripada menjual ke dalam negeri dengan harga yang diatur pemerintah. Ini yang menjadi penyebab kelangkaan. Jadi bukan ditimbun ibu-ibu seperti pernyataan pejabat Kemendag yang asbun itu. Terbukti setelah batasan harga dihapus, minyak goreng berlimpah lagi," kata Gobel.

Simak Video: Mendag Soal Migor Mahal: 'Salahkan' Rusia-Janji Penjarakan Mafia

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT