ADVERTISEMENT

Jokowi Dicurhati Macron Hingga Xi Jinping: Semua Babak Belur Karena Perang

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 25 Mar 2022 14:09 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi)/Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Dia bilang di negara-negara yang tak mematok subsidi BBM macam Indonesia, harga BBM sudah naik dua kali lipat alias 100%. Dia membandingkan di Indonesia saja, BBM naik 10% protesnya sampai tiga bulan.

"Negara-negara yang tidak subsidi, BBM-nya naik dua kali lipat. Bayangkan kita naik 10% saja, demonya tiga bulan. Ini naik dua kali lipat, artinya 100% naiknya," ungkap Jokowi.

Bukan cuma energi, harga pangan juga ikut naik. Khususnya harga gandum yang banyak digunakan sebagai bahan pangan. Imbas dari perang, saat ini banyak negara mengalami kelangkaan pangan.

"Harga pangan naik, kelangkaan harga pangan naik, termasuk terseret harga kedelai misalnya. Harga gandum misalnya, karena pensuplai gandum dunia itu Ukraina, Rusia, Belarusia, semuanya," papar Jokowi.

Hal-hal semacam ini menurut Jokowi perlu dicermati baik-baik dan dicari solusinya. Pasalnya, dari masalah-masalah ini akan memberikan beban kepada masyarakat sebagai konsumen. Kenaikan harga pangan dan energi dapat menimbulkan inflasi yang tinggi.

"Semua ini kita harus ngerti, larinya ke mana harus ngerti, yang titik akhirnya kenaikan inflasi. Hati-hati," terang Jokowi.

Saat ini memang Indonesia masih bisa mengendalikan inflasi di angka 2,2%, namun tak ada yang tahu angka itu bisa saja naik pesat. Sebagai contoh, Amerika Serikat (AS) saja yang bertahun-tahun mampu menjaga inflasinya di angka 1% ke bawah, kini sudah 7,5%.

"Kita sekarang ini masih bisa kendalikan inflasi di angka 2,2%. Tapi coba lihat Amerika yang biasanya nggak pernah lewat dari 1%, sekarang sudah di angka 7,5%. Semua negara naik-naik semuanya," pungkas Jokowi.


(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT