ADVERTISEMENT

Kena Sanksi Sana-sini, Konglomerat Rusia Disambut Hangat di Turki

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Senin, 28 Mar 2022 11:44 WIB
Little girl waving Turkish flag on sunny beautiful day
Foto: Getty Images/iStockphoto/atakan
Jakarta -

Turki menerima konglomerat atau oligarki asal Rusia yang datang ke negaranya. Oligarki ini bisa melakukan aktivitas bisnis di sana.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan dia akan menyambut konglomerat Rusia yang terkena sanksi ke negaranya sebagai turis dan investor. Mereka bisa melakukan bisnis apapun selama masih dalam dalam ranah hukum internasional.

"Jika maksud Anda apakah oligarki ini dapat melakukan bisnis apa pun di Turki, maka tentu saja jika itu legal dan tidak bertentangan dengan hukum internasional, saya akan mempertimbangkannya," katanya, melansir CNBC, Senin (28/3/2022).

Tapi sebaliknya, Cavusoglu mengatakan, jika itu bertentangan dengan hukum internasional maka itu cerita lain.

Turki telah menjadi sorotan minggu ini dengan perairan pesisirnya yang kedatangan dua superyacht bernilai jutaan dolar milik oligarki Rusia Roman Abramovich. Bos Chelsea melakukan itu demi menghindari penyitaan aset yang dilakukan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat terhadap kekayaannya, buntut invasi militer Pemerintahan Vladimir Putin ke Ukraina.

Turki mengatakan itu adalah langkah yang sah. Selama kapal pesiar tetap berada di luar perairan teritorial negara-negara pemberi sanksi, yang membentang 12 mil laut dari garis pantai.

"Kami menerapkan sanksi yang disetujui PBB, jadi jika ada warga Rusia yang ingin mengunjungi Turki, tentu saja mereka dapat mengunjungi Turki. Sekarang orang Rusia datang mengunjungi Turki, itu tidak masalah," katanya.

Cavusoglu menegaskan Turki mengecam keras invasi Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina tetapi pada prinsipnya menentang sanksi yang dijatuhkan oleh sekutu NATO-nya. Mengingat hubungan diplomatik dan ekonominya dengan Rusia, terutama dalam hal impor gas Rusia, dan terkadang hubungannya yang tidak stabil dengan mitra Barat, hal itu tidak mungkin berubah dalam waktu dekat.

Turki telah memposisikan dirinya sebagai mediator yang netral dalam pembicaraan antara Rusia dan Ukraina.



Simak Video "Tantangan Putin ke Negara Barat untuk Kalahkan Rusia di Medan Perang!"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT