ADVERTISEMENT

China Batalkan Investasi Rp 7 T di Rusia, Putin bakal Pusing Nih

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 29 Mar 2022 10:36 WIB
Invasi Ukraina: Dapatkah Rusia mengandalkan China setelah kena hantam rangkaian sanksi?
Foto: BBC World
Jakarta -

Hubungan antara China dan Rusia tampaknya mulai renggang. Hal itu karena perusahaan energi China membatalkan investasi senilai US$ 500 juta di Rusia atau setara Rp 7,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.300).

Dikutip dari Express, Selasa (29/3/2022), keputusan itu akan menjadi pukulan yang besar bagi Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebab, Rusia mengandalkan bantuan China dalam mengatasi sanksi dari Barat.

Presiden China Xi Jinping disebut menjadi pendukung Rusia untuk melawan Barat. Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, dua pemimpin negara Putin dan Xi Jinping bertemu di Beijing menjelang Olimpiade Musim Dingin di mana mereka menegaskan kembali komitmen mereka satu sama lain. Dalam pernyataan bersama, Putin dan Xi Jinping menyatakan, tidak ada batasan antara Moscow dan Beijing.

Namun, ada sinyal jika Beijing mengevaluasi kembali hubungannya dengan Moscow.

Sinopec Group yang dikelola pemerintah China telah menarik diri dari kesepakatan senilai US$ 500 juta untuk memasarkan gas perusahaan Rusia Sibur di China karena kekhawatiran menjadi sasaran sanksi.

Salah satu direktur dan investor Sibur adalah Gennady Timchenko yang merupakan sekutu Putin. Timchenko telah diberi sanksi oleh Barat setelah aneksasi Rusia atas Krimea pada tahun 2014.

Inggris memberlakukan sanksi lebih lanjut terhadap miliarder Rusia pada Februari setelah Putin mengerahkan pasukan ke Donestk dan Luhansk yang memisahkan diri di Ukraina timur.

Keputusan Sinopec muncul setelah menghadiri pertemuan di Kementerian Luar Negeri. China National Petroleum Corp (CNPC) dan China National Offshore Oil Corp (CNOOC) juga hadir. Para pemimpin perusahaan diminta untuk mengevaluasi hubungan mereka dengan Rusia dan berhati-hati dalam urusan bisnis dengan negara tersebut.

Seorang eksekutif di Sinopec mengatakan kepada Reuters menyatakan, perusahaan akan secara tegas mengikuti kebijakan luar negeri Beijing.

"Tidak ada ruang sama sekali bagi perusahaan untuk mengambil inisiatif dalam hal investasi baru," katanya.

Simak juga video 'AS Sebut Rusia Minta Bantuan China, Beijing: Jangan Perburuk Situasi':

[Gambas:Video 20detik]



(acd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT