DPR Cecar Kemenkes Soal Vaksin Bio Farma Lebih Mahal dari Pfizer

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 31 Mar 2022 13:13 WIB
Anggota kepolisian berjaga di dekat Envirotainer berisi bahan baku vaksin COVID-19 Sinovac saat tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/5/2021). Sedikitnya 8 juta dosis dalam bentuk bulk vaksin Sinovac pada tahap ke-13 tersebut tiba di Bio Farma untuk diproses dan didistribusikan guna mempercepat rencana vaksinasi sedikitnya 70 persen penduduk atau sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia untuk mempercepat kekebalan komunal terhadap COVID-19. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI
Jakarta -

Hari ini Komisi IX DPR menggelar rapat panitia kerja mengenai pengawasan terhadap vaksin COVID-19. Kementerian Kesehatan pun dicecar mengenai harga vaksin Bio Farma yang kemahalan.

Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay mencecar Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalusia terkait harga vaksin yang ada di Indonesia.

Saleh menjelaskan pada paparan Kemenkes pengadaan vaksin Astra Zeneca tahap I Rp 78 ribu harganya, lalu untuk Astra Zeneca Tahap II Rp 73 ribu.

"Nah ini benar-benar ada perbedaan signifikan jadi tolong diberikan penjelasan," jelas dia dalam rapat panja di DPR, Kamis (31/3/2022).

Dia menyebutkan kemudian harga vaksin Pfizer sebesar Rp 97.875. Harga itu masih lebih mudah dibandingkan vaksin yang diadakan oleh Bio Farma.

"Kenapa kita beli vaksinnya yang diadakannya oleh Bio Farma dengan harga Rp 132 ribu, logikanya kan lebih murah Pfizer. Sementara efikasinya menurut yang kita dapatkan dari BPOM lebih bagus Pfizer ini? Betul nggak sih ini? Harganya kan lebih murah, efikasinya bagus, tapi kita beli yang lebih mahal. Begitu juga dengan merek lain nih. Mohon dijelaskan," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama Kemenkes telah memaparkan terkait pengadaan vaksin COVID-19. Antara lain produksi PT Bio Farma sebanyak 122,5 juta dosis harga satuan Rp 132.439. Kemudian pengadaan vaksin Astra Zeneca Tahap I sebanyak 20 juta dosis dengan harga Rp 78.331. Vaksin Pfizer sebanyak 34,63 juta dosis dengan harga Rp 97.875.

Vaksin Coronavac Tahap I 50 juta dosis dengan harga Rp 108,914. Tahap II sebanyak 40 juta dosis dengan harga Rp 86.506. Kemudian tahap III sebanyak 11,6 juta dosis dengan harga Rp 82.661.

Selanjutnya vaksin Astra Zeneca tahap II sebanyak 17,4 juta dosis dengan harga satuan Rp 73.877. Kemudian pengadaan Covovax dengan 9 juta dosis dengan harga satuan Rp 105.230.

Ini adalah total pengadaan 2020-2021 dari alokasi anggaran sebanyak Rp 34,09 triliun dengan realiasai Rp 33,27 triliun atau 97,6%.

Kemudian ini adalah rencana pengadaan vaksin COVID-19 Tahun 2022 sebagian besar pengadaan adalah carry over pelaksanaan tahun 2021.

Yaitu pengadaan vaksin Pfizer bilateral sebanyak 15,4 juta dosis dengan harga satuan Rp 97.875 anggarannya Rp 1,5 triliun. Kemudian Astra Zeneca tahap tiga 12,6 juta dosis dengan harga Rp 78.330 dengan anggaran Rp 986,9 miliar. Lalu Covid-Bio kelebihan produksi 2021 sebanyak 2,83 juta dosis dengan harga satuan Rp 71.665 dengan anggaran Rp 202,88 miliar.

Kemudian Sinovac-CoronaVac dengan 20 juta dosis dan harga satuan Rp 82.661 dengan total anggaran Rp 1,65 triliun. Selanjutnya rencana pengadaan vaksin anak untuk 38,7 juta dosis dan harga satuan Rp 71.665 dan kebutuhan anggaran Rp 2,77 triliun. Terakhir vaksin Merah Putih Rp 1,68 triliun.



Simak Video "Pentingnya Riset Vaksin untuk Produsen"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)