Suharso dan Bahlil Sepakat Kesepahaman Perbaiki Data Investasi, Ini Caranya

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 31 Mar 2022 16:57 WIB
Suharso-Bahlil Teken MoU Perbaiki Data Investasi
Foto: Anisa Indraini/detikcom
Jakarta -

Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Investasi/BKPM hari ini melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang kerja sama untuk mendorong investasi dalam rangka mendukung prioritas pembangunan nasional. Kerja sama keduanya terkait perbaikan data.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan perbedaan data yang selama ini terjadi membuat pihaknya kesulitan menyusun proyeksi ekonomi Indonesia, khususnya terkait kontribusi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. Dengan adanya kerja sama ini diharapkan persoalan itu dapat diperbaiki.

"Kita melaksanakan sebuah MoU yang terpaksa dilakukan karena ada semacam ketidaknyamanan kepemilikan atas sesuatu data yang diperlukan dalam rangka perencanaan pembangunan nasional, sehingga diperlukan MoU," kata Suharso di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (31/3/2022).

Sayangnya Suharso tidak menjelaskan kerja sama dalam bentuk apa yang dilakukan karena sangat teknis. Intinya kerja sama ini diharapkan dapat memperbaiki data kontribusi PMTB khususnya investasi di sektor manufaktur.

Suharso sepertinya merasa aneh dengan data realisasi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) yang cenderung rendah yakni 19,25% pada 2021. Padahal investasi di sektor manufaktur terus tumbuh.

"PMTB kita ini sekarang kita ingin lihat isinya kenapa tidak mencerminkan dengan upaya untuk mendorong industri manufaktur karena selama ini kontribusi industri manufaktur kita itu pertumbuhannya flat dan kontribusinya mandek seakan mengalami stagnasi. Padahal kita melakukan investasi sampai luar biasa, pasti ada sesuatu yang kayaknya missing," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menambahkan bahwa ada beberapa hal yang disepakati dalam kerja sama ini yaitu pertukaran data khususnya untuk investasi, kolaborasi investasi di sektor-sektor strategis khususnya pada hilirisasi, serta bagaimana meningkatkan investasi di sektor manufaktur.

"Ini sebagai syarat untuk kita keluar dari pendapatan menengah kita. Kita bersama-sama tadi saling berdiskusi untuk bagaimana mimpi Indonesia 2045 bisa terwujud untuk pendapatan per kapita kita di atas US$ 10.000," imbuhnya.

(aid/ara)