ADVERTISEMENT

Presidensi G20 Kerek Gengsi, RI Makin Layak Investasi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 01 Apr 2022 20:15 WIB
Ilustrasi anggota G20
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) menyambut baik berbagai rencana investor global untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya pabrikan kendaraan listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla Inc. untuk proyek power bank raksasa atau energy storage system (ESS).

Seperti diketahui, perusahaan otomotif dunia itu kembali menyatakan ketertarikannya untuk berinvestasi di Indonesia setelah dua tahun lalu sempat membatalkan rencananya tersebut.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, mengatakan, saat ini Indonesia memang tengah menjadi salah satu negara tujuan investasi. Dalam dua tahun terakhir saja, atau saat pandemi melanda, arus investasi ke Indonesia tetap tumbuh.

Di tahun 2020 misalnya, realisasi investasi tercatat senilai Rp 826,3 triliun, tumbuh 2,06% (yoy). Sementara di 2021 tumbuh 9,0% (yoy) menjadi Rp 901,02 triliun. Bahkan, dari data tersebut, investasi asing tahun tumbuh paling besar, yaitu 10% (yoy) atau Rp 454 triliun. Sementara di tahun ini, pemerintah menargetkan dapat merealisasikan investasi sebesar Rp1.200 triliun.

"Peluang mencapai angka tersebut tidak mustahil, apalagi ada dua momen potensial bagi Indonesia, dimana negara ini menjadi Presidensi G20 dan Business 20 (B20). Indonesia merupakan satu-satunya negara Asia Tenggara yang bisa menjadi tuan rumah G20-B20. Ini tentunya tidak akan disia-siakan untuk menarik investasi di segala bidang," kata dikutip Arsjad, Jumat (1/4/2022).

Untuk B20, KADIN ditunjuk sebagai penyelenggara yang akan memimpin forum tersebut. Prioritas yang diusung dalam B20 juga sejalan dengan tema prioritas G20, yaitu kemajuan inovatif, inklusif, dan pertumbuhan kolaboratif. Khusus untuk forum B20, Arsjad mengatakan akan membuat Indonesia berkesempatan mendapatkan kepercayaan dari komunitas global dan menumbuhkan pusat investasi di kawasan Asia Tenggara.

B20 adalah ajang dan forum dialog yang sangat strategis karena mempertemukan perusahaan papan atas yang punya kredibilitas tinggi dari negara-negara G20 untuk bisa berinvestasi di Indonesia. Investasi yang didorong terutama ialah yang berbasis inovasi dan kolaboratif untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Tahun lalu, sejumlah perusahaan sudah mengumumkan investasi berbasis di Indonesia. Contohnya antara lain investasi dari konsorsium Hyundai Motor Company-LG Energy Solution senilai USD 1,1 miliar untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik. Investasi ini bahkan telah dimulai dengan pembangunan pabrik sel baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat. Pada segmen ini, pemerintah juga telah mengantongi komitmen investasi dari Hon Hai Precision Industry alias Foxconn.

Begitu pun di sektor batubara, pada November 2021 Menteri Investasi Bahlil Lahadalia berhasil mengunci komitmen investasi senilai USD 15 miliar dari Air Products and Chemical Inc dari Uni Emirat Arab. Kesepakatan investasi megaproyek ini berupa pendirian fasilitas gasifikasi untuk konservasi batubara bernilai rendah menjadi produk kimia bernilai tambah tinggi seperti methanol, dimethyl ether, dan bahan kimia lainnya.

Kemudian Philip Morris International melalui perusahaan afiliasinya PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) pada November 2021 lalu juga mengucurkan USD 166,1 juta untuk berinvestasi membangun fasilitas produksi produk tembakau yang dipanaskan yang juga berbasis inovasi dan riset. Fasilitas produksi yang dijadwalkan akan beroperasi pada kuartal 4 2022 tersebut akan memenuhi permintaan pasar dalam negeri maupun ekspor di kawasan Asia Pasifik.

Investasi berbasis inovasi lain yang mesti diakselerasi, lanjut Arsjad, adalah teknologi digital. Oleh karena itu, KADIN sangat mendukung investasi berbasis teknologi digital ini. Di tahun 2025, nilai pertumbuhan ekonomi digital diproyeksikan dapat mencapai USD 146 miliar.

"KADIN melihat digitalisasi ekonomi akan memainkan peran penting dan strategis di masa depan, dan karenanya Indonesia perlu bersiap diri lebih agresif. Terlebih lagi banyak tantangan yang akan dihadapi, baik itu persoalan teknologi, SDM, hingga regulasinya. Untuk itu, perlu membuka kemitraan publik-swasta dan menciptakan iklim yang kondusif bagi investor dan mampu memberikan dampak yang luas sehingga misi Indonesia Emas 2045 terwujud," tegas Arsjad.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy setuju bahwa inovasi berbasis inovasi merupakan salah satu prioritas yang harus dimunculkan dalam G20 dan B20 di Indonesia tahun ini. Sejumlah korporasi global yang sejak tahun lalu telah berkomitmen menanamkan investasi di sektor hilir yang padat inovasi itu menjadi salah satu bukti akan pentingnya fokus ini.

"Investasi yang berbasis inovasi menjadi penting karena akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Mendukung hal ini perlu untuk mendorong kolaborasi, riset antara pemerintah dan swasta misalnya," ujar Yusuf.

Sektor hilir industri merupakan fokus utama pemerintah menggaet investasi, sebab memiliki efek berganda alias multiplier effect yang besar. Tidak hanya akan menciptakan lapangan kerja baru, investasi ini juga turut mengakselerasi penciptaan serta penerapan inovasi dan teknologi baru yang mendorong terciptanya ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.



Simak Video "Dukungan Negara Tamu hingga Lembaga Internasional Terhadap Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT