ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Shanghai Lockdown, Lampu Kuning Bayangi Ekonomi Global

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Sabtu, 02 Apr 2022 15:15 WIB
Police officers in protective suits keep watch at an entrance to a tunnel leading to the Pudong area across the Huangpu river, after traffic restrictions amid the lockdown to contain the spread of the coronavirus disease (COVID-19) in Shanghai, China March 28, 2022. REUTERS/Aly Song
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Aly Song
Jakarta -

China memberlakukan penguncian atau lockdown untuk salah satu kotanya, Shanghai. Lockdown dilakukan guna melakukan tes massal Covid-19. Kondisi ini sekaligus menjadi tanda bahaya untuk ekonomi dunia.

Adapun Lockdown dilakukan mulai Senin (28/3) waktu setempat di bagian timur Shanghai. Masyarakat akan dilarang keluar selama empat hari saat tes massal dimulai. Setelah itu, lockdown akan dilakukan ke bagian lain Shanghai mulai Jumat (1/4).

Melansir CNN, Selasa (29/3/2022), pengumuman lockdown itu membuat harga minyak mentah global turun tajam, karena dengan kebijakan lockdown diprediksi akan mengurangi permintaan dari konsumen. Seperti diketahui, China mengimpor sekitar 11 juta barel minyak per hari.

Namun, saham tetap bertahan. Shanghai Composite Index melaporkan pada penutupan Senin naik 0,1%. Bursa Efek Shanghai tetap buka, dan mengatakan akan menawarkan layanan online untuk perusahaan yang ingin melalui proses pencatatan saham.

Lockdown-nya Shanghai adalah masalah besar bukan hanya karena skala kota, tetapi juga karena hubungan keuangan dan ekonomi yang dalam.

Menurut ekonom Macquarie Capital, Larry Hu, Shanghai menyumbang sekitar 4% untuk ekonomi China. Terlebih karena itu adalah pusat utama ekonomi China, dampak tidak langsungnya juga bisa substansial.

Hu menambahkan, lockdown merupakan ancaman bagi target pertumbuhan ekonomi China sekitar 5,5%, yang sudah menjadi yang terendah dalam tiga dekade terakhir.

"China seharusnya dapat menahan virus dalam beberapa minggu ke depan, karena lockdown efektif. Tetapi Covid memang menimbulkan risiko pertumbuhan yang substansial di sisa tahun ini, karena penguncian berdampak besar," kata Hu.

Belanja konsumen dan sektor real estat China, yang sudah berada di bawah tekanan serius, kemungkinan akan menanggung beban terberat.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT