ADVERTISEMENT

Liputan Khusus

Penghasilan Pelukis Jalanan Tak Tentu, Bisa Berbulan-bulan Tak Dapat Order

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 10 Apr 2022 12:33 WIB
Pelukis jalanan
Foto: Pelukis jalanan/Trio Hamdani
Jakarta -

Berjibaku dengan asap kendaraan dan suara bising knalpot, hingga terik matahari menjadi makanan sehari-hari para pelukis jalanan. Tapi tak cuma itu, mereka juga dibayang-bayangi oleh penghasilan yang tidak menentu.

Eko Bhandoyo, pelukis di Sentra Lukis Pasar Baru, Jakarta Pusat menuturkan jika sedang sepi, pelukis di sini bisa berbulan-bulan tak mendapatkan pemasukan. Jika sudah begitu, para pelukis bergotong royong untuk membantu mereka yang tak dapat orderan.

"Barang seni tidak bisa disamakan dengan sembako/kebutuhan barang pokok ya, ya (orderan yang masuk bisa) seminggu sekali, kadang kala berbulan-bulan nggak ada order," katanya saat berbincang dengan detikcom.

Saat pemasukan seret, mau tak mau pelukis di sini harus berutang sana sini, umumnya meminjam dari sesama rekan pelukis yang kebetulan rezekinya masih lancar.

"Jadi kami di antara teman ini saling mengisi, mereka yang dapat order ya membantu teman yang nggak ada order, kekurangan, membutuhkan sesuatu ya kita bantu, dalam arti membantu itu pinjam, nanti bergiliran, (begitu ada order) gantian," jelas Eko.

Dia mengatakan pandemi virus Corona (COVID-19) sangat memukul pelukis jalanan. Sebab, banyak kantor tutup lantaran menerapkan kerja dari rumah atau work from home (WFH), sedangkan andalan para pelukis jalanan adalah pesanan dari kantor-kantor.

Biasanya kantor-kantor memesan lukisan berupa karikatur sebagai souvenir atau bingkisan untuk rekan kerja yang mengundurkan diri dari pekerjaannya atau purna tugas dan lain sebagainya.

"(Akibat pandemi COVID-19) pendapatan turun, drastis, ada 50%," sebut Eko.

Hal serupa dialami oleh pelukis jalanan di trotoar Blok M Square, Jakarta Selatan. Menurut seorang pelukis, Rommel, pendapatannya tidak pasti, kadang ada, kadang tidak.

Kalau lagi tak ada pemasukan, dia mengandalkan sisa-sisa uang yang dia miliki dari pemasukan hari-hari sebelumnya.

"Ya dibilang cukup ya cukup aja, dibilang kurang ya pasti kurang. Relatif, yang penting kita nikmati aja. Namanya orang seniman ya begitu, dunianya begitu," tuturnya.

Dia masih ingat duka yang dialaminya ketika Indonesia baru dilanda penyebaran virus Corona, di mana pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pusat-pusat perbelanjaan pun kena imbasnya dan harus tutup. Mau tak mau para pelukis di Blok M Square ikut terpukul karena tidak bisa menjajakan jasanya.

"Waktu COVID kan, lockdown, wah sakit banget nggak bisa operasi kita, nggak bisa buka, nggak bisa cari duit, online juga nggak jalan, kacau itu cukup lama itu," sebutnya.

Namun, beruntungnya, di tengah kesulitan yang dia alami ada 1 atau 2 konsumennya yang menghubungi via telpon untuk meminta jasa lukis.

"Untung ada satu customer kita yang pernah pesan, pesan lagi, ada saja rezeki ya kita nggak tahu ya," tambah Rommel.

(toy/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT