Impor Pangan Banjiri RI, Anggota DPR Desak Kementan Cari Solusi

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 11 Apr 2022 12:48 WIB
Pembangunan gedung baru untuk DPR RI menuai kritikan berbagai pihak walaupun Ketua DPR Setya Novanto menyebut Presiden Jokowi telah setuju pembangunan tersebut. Tetapi Presiden Jokowi belum teken Perpres tentang pembangunan Gedung DPR. Lamhot Aritonang/detikcom.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Slamet menyinggung soal tingginya impor pangan. Harga pangan saat ini juga tidak terkendali.

"Harga pangan tidak terkendali, kalau disampaikan dalam datanya impornya meningkat. Secara tidak langsung pemerintah gagal menyiapkan produk-produk terkait dengan pangan. Gagal. Ini terus disampaikan cukup (pangan) sementara harga pangan selalu tinggi. kenapa?" katanya dalam rapat dengan Kementerian Pertanian, Senin (11/4/2022).

Selain itu, ia juga menyampaikan terkait tingginya harga pangan malah tidak memberikan keuntungan kepada petani. Ia meyakini, saat ini para pengusaha lah yang rakus tidak ingin mengurangi keuntungannya.

"Pengusaha Indonesia ini rakus, tidak bisa berempati dengan rakyat. Saat ini menurut saya tidak ada pengusaha yang rugi, mereka hanya tidak mau mengurangi keuntungannya.

Jadi menurutnya, pemerintah dalam hal ini Kementan harus menggunakan kewenangannya untuk memberikan ketegasan kepada para pengusaha. "Pak Menteri saya harapkan bisa menggunakan kewenangannya menegakkan itu, memberikan kesejahteraan para petani kita khususnya," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi IV Hermanto juga menyampaikan soal impor. Ia mengatakan sebagainya Kementan menyusun rencana untuk menekan impor.

Adapun cara untuk menekan impor pangan yakni dengan memberdayakan petani dalam negeri. "Sehingga hasil daripada anggaran ini betul-betul untuk kesejahteraan petani dalam negeri," lanjutnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Budisatrio Djiwandono menyatakan kekhawatiran soal gejolak harga pangan bukan hanya saat Ramadan ini. Menurutnya, gejolak harga ini akan berlangsung ke depannya, mengingat banyak masalah internasional.

"Saya khawatir kondisi dunia ini, terus membuat tekanan terhadap harga pangan kita. Hingga sampai hari ini masyarakat menjerit tetapi ini menjadi sangat panjang," tuturnya.

"Sri Lanka, Pakistan, dan Peru ini sudah semakin tinggi gejolak politiknya, ekonominya karena tekanan harga pangan dan energi. Kita sudah merasakan di Indonesia. Maka lakukanlah kerja untuk menghadapi permasalahan ini," tutupnya.

Simak juga video 'Kepala BMKG: Perubahan Iklim Ancam Ketahanan Pangan di Tanah Air:

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)