Dari Buntung Jadi Untung, Laba Holding Perkebunan Naik 500% Jadi Rp 4,6 T

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 12 Apr 2022 13:18 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) menorehkan sejarah atas capaian kinerja keuangannya. Perusahaan induk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang perkebunan itu membukukan laba konsolidasi sebesar Rp 4,64 triliun di 2021.

Capaian tersebut meningkat Rp 5,73 triliun atau sekitar 500% dibanding tahun 2020 yang mengalami kerugian Rp 1,14 triliun. Capaian diperoleh dari penjualan sebesar Rp 53,57 triliun atau 32% di atas pencapaian tahun lalu.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Mohammad Abdul Ghani mengatakan upaya transformasi berhasil memberi dampak positif terhadap kinerja keuangan PTPN Group di 2021. Pendapatan perusahaan meningkat dari Rp 39,39 triliun pada 2020, jadi Rp 53,57 triliun atau 36,00 % di atas pencapaian tahun lalu.

"Kami akan terus memacu pertumbuhan pendapatan usaha melalui peningkatan produksi dan produktivitas, serta optimalisasi operasional baik di hulu maupun hilir. Pada komoditas tebu dan gula misalnya, kami akan fokus meningkatkan produktivitas lahan tebu serta merevitalisasi pabrik gula melalui anak perusahaan yang kami dirikan yaitu PT Sinergi Gula Nusantara (SGN)," kata Ghani dalam keterangan tertulis, Selasa (12/4/2022).

Restrukturisasi organisasi dengan mengubah strategic holding menjadi operating holding, restrukturisasi utang, dan program transformasi EBITDA menjadi faktor utama keberhasilan transformasi PTPN Group. Selain itu, PTPN Holding melakukan transformasi digital sehingga dapat mengeskalasi tingkat efisiensi dan efektivitas pekerjaan agar lebih optimal.

Salah satu program kunci transformasi yang paling berperan adalah restrukturisasi utang, dimana PTPN Holding melakukan perbaikan kinerja keuangan agar tercapai bisnis yang berkelanjutan, komprehensif, dan transparan. Berkat itu manajemen PTPN Group mampu memperbaiki kesehatan finansial salah satunya menurunkan liabilitas jangka pendek melalui program restrukturisasi utang kepada perbankan.

Pada 2020 total liabilitas jangka pendek jatuh tempo sebesar Rp 38,19 triliun, turun jadi Rp 20,03 triliun di 2021. Turunnya angka itu membuat manajemen mampu membiayai ekspansi bisnis, dan memperbaiki arus kas (cash flow), serta memberikan ruang kepada perusahaan untuk meningkatkan belanja modal.

"Program transformasi EBITDA yang mulai digulirkan pada awal triwulan II-2021 juga memberikan kontribusi signifikan terhadap capaian kinerja di tahun 2021. Hasilnya adalah tercapainya peningkatan revenue dan efisiensi biaya dan operasional dengan melakukan perbaikan-perbaikan fundamental untuk keberlangsungan bisnis sehingga dapat menjadi juara," ujar Ghani.

Pada 2021 total produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mencapai 12,47 juta ton, meningkat 13,36% dibandingkan periode yang sama pada 2020. Peningkatan produksi TBS diikuti oleh peningkatan produksi Crude Palm Oil (CPO) yaitu sebesar 2,68 juta ton, meningkat 12,57% dibandingkan 2020.

Di samping itu terjadi peningkatan produktivitas TBS dan CPO masing-masing menjadi 21,07 ton/ha dan 4,83 ton/ha, atau masing-masing meningkat 7,18% dan 7,51% dari tahun 2020. Terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) komoditi sawit, terjadi penurunan dari Rp 4.161/kg menjadi Rp 3.956.

Kondisi tersebut juga didukung oleh realisasi harga jual rata-rata CPO PTPN pada 2021 sebesar Rp 11.293/kg, meningkat dibanding tahun lalu yang hanya mencapai rata-rata Rp 8.521/kg sehingga berdampak kepada peningkatan pendapatan dan laba korporasi cukup signifikan. Untuk komoditi karet, realisasi total produksinya pada 2021 sebesar 171 ribu ton atau meningkat 7,21% dibanding 2020. Sementara produksi gula pada 2021 adalah 768,6 ribu ton atau meningkat 9,42% dari tahun sebelumnya.

"Program transformasi yang kami lakukan terbukti mampu mengakselerasi peningkatan produksi dan produktivitas komoditi utama PTPN yang berdampak pada semakin baiknya kinerja finansial perusahaan. Hal ini tidak terlepas juga dari kenaikan harga jual rata-rata komoditi PTPN Group terutama untuk komoditi sawit," ungkap Ghani.



Simak Video "Hii, Jaring Laba-laba Menyelimuti Seisi Kota di Australia "
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)