'Kehancuran' Sri Lanka Mirip Fenomena Arab Spring, China Biang Keroknya?

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Kamis, 14 Apr 2022 17:43 WIB
A man sits on a domestic gas cylinder as he waits in line to buy gas on a main road, amid the countrys economic crisis in Colombo, Sri Lanka, April 12, 2022. REUTERS/Dinuka Liyanawatte
Sri Lanka Sedang Hancur-hancuran Karena Gagal Bayar Utang/Foto: REUTERS/DINUKA LIYANAWATTE
Jakarta -

Sri Lanka saat ini tengah menghadapi krisis parah. Hal ini membuat warga turun ke jalan hingga mendesak Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa untuk mundur. Kondisi Sri Lanka ini mirip dengan fenomena Arab Spring pada satu dekade lalu.

Arab Spring sendiri merupakan serangkaian aksi protes besar-besaran yang terjadi di sejumlah negara Arab pada 2010 silam. Fenomena itu pertama kali terjadi di Tunisia, di mana seorang pedagang melakukan aksi bakar diri karena kecewa terhadap otoritarianisme, korupsi, dan kemiskinan.

Kemudian aksi protes tersebut menyebar hingga ke beberapa negara Arab lainnya seperti Mesir, Libya, dan Suriah. Nah kondisi Sri Lanka ini disamakan dengan fenomena Arab Spring tersebut.

"Ini 'Arab Spring' di Sri Lanka. Ini sangat cocok dengan pola Arab Spring: pemberontakan rakyat untuk mengakhiri pemerintahan otoriter, salah urus ekonomi dan aturan keluarga, dan menerapkan demokrasi," ujar Analis Keamanan dan Geopolitik Internasional dan Penasihat Strategis Sri Lanka Asanga Abeyagoonasekera, dikutip dari CNBC, Kamis (14/4/2022).

Sri Lanka sendiri saat ini menghadapi krisis ekonomi yang terburuk dalam beberapa dekade terkahir. Negara tersebut sedang berjuang untuk membayar utang. Masalah utama yang dihadapi Sri Lanka adalah beban utang luar negerinya yang besar.

Nah, salah satu kreditur terbesar Sri Lanka ternyata China. Pemerintah Sri Lanka meminjam uang ke Beijing untuk keperluan sejumlah proyek infrastruktur sejak 2005 lalu lewat skema Belt and Road (BRI).

Dari situ, secara perlahan cadangan Sri Lanka menyusut karena proyek konstruksi yang dibangun dari pinjaman China tidak menghasilkan uang.

Dikutip dari laman Times of India, total utang Sri Lanka ke China mencapai US$ 8 miliar atau setara Rp 114 triliun (kurs Rp 14.300). Jumlah tersebut sekitar seperenam dari total utang luar negeri Sri Lanka.

Di sisi lain China menolak untuk menawarkan konsesi atau perpanjangan kredit dalam pembayaran utang Sri Lanka. Sehingga, hal tersebut telah membuat semakin bertambahnya beban Sri Lanka.

(fdl/fdl)