Pandemi Mulai Reda, Kok Gelombang PHK Masih Ada?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 19 Apr 2022 14:29 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Pandemi COVID-19 di Indonesia mulai terkendali terlihat dari pelonggaran aktivitas hingga kegiatan ekonomi yang mulai bergerak lagi. Meski begitu, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi seperti di PT Sokonindo Automobile atau DFSK Indonesia dan Texas Chicken di bawah manajemen PT Cipta Selera Murni (CSMI) Tbk.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian, Johnny Darmawan mengatakan pandemi COVID-19 membuat daya beli berkurang sehingga usaha yang tidak bisa bersaing harus melakukan efisiensi. Salah satu jalan yang ditempuh adalah memangkas jumlah karyawan demi mengurangi beban operasional.

"Ini terjadi memang karena pandemi. Pandemi itu membuat industri drop dan daya beli berkurang. Jadi saya tidak heran kalau mereka akan melakukan efisiensi-efisiensi," kata Johnny kepada detikcom, Selasa (19/4/2022).

Meski pandemi COVID-19 sudah mulai reda, perang yang terjadi antara Rusia-Ukraina kembali membuat daya beli berkurang karena efek kenaikan harga komoditas.

"Walaupun pandemi sudah reda, keluar lagi yang namanya (perang) Rusia-Ukraina. Kamu lihat bensin naik, LPG naik, minyak goreng naik, semua naik akan terjadi inflasi, daya beli berkurang lagi," jelasnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira. Meskipun pemulihan sudah terjadi, konsumsi masyarakat disebut belum kembali seperti pra pandemi COVID-19.

"Konsumsi masyarakat belum kembali seperti pra pandemi. Hal itu ditunjukkan oleh perlambatan indeks keyakinan konsumen bulan Maret 2022 menjadi 111, lebih rendah dibanding Maret 2019 yakni 124.5. Masalah utama terletak pada kesempatan kerja yang terbatas," bebernya.

Khusus usaha restoran seperti Texas Chicken, PHK karyawan dinilai untuk mengantisipasi tekanan daya beli yang lebih besar akibat kenaikan harga komoditas.

"Pasca Lebaran sinyal naiknya BBM subsidi, Pertalite dan tarif listrik cukup kuat. Kalau inflasi terlalu tinggi, maka masyarakat terutama kelas menengah tanggung akan menahan belanja di luar rumah. Kenaikan biaya produksi seperti kenaikan harga minyak goreng dan BBM, gas non subsidi berakibat pada beban operasional perusahaan membengkak," ujarnya.

Lalu persaingan di industri restoran cepat saji juga dipandang cukup ketat sehingga mereka yang tidak bisa bersaing akan melakukan efisiensi-efisiensi seperti penutupan gerai yang dianggap tidak menguntungkan. Jika sudah begitu PHK karyawan tidak bisa terhindarkan.

"Persaingan di industri restoran siap saji cukup ketat karena segmen ini juga banyak pendatang baru terutama di daerah-daerah. Kalau bicara ayam goreng krispy, wah pemainnya banyak sekali dan konsepnya pun beragam," tandas Bhima.

(aid/dna)