China Lockdown Lagi, Warga Sudah Dapat Makan Hingga Cari Duit!

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 25 Apr 2022 11:39 WIB
Residents stand on a street waiting for nucleic acid test during lockdown amid the coronavirus disease (COVID-19) pandemic, in Shanghai, China, April 17, 2022. REUTERS/Aly Song
Potret Terbaru Shanghai, Laporkan 3 Kematian Pertama Covid Sejak Lockdown/Foto: REUTERS/ALY SONG
Jakarta -

Lockdown di China kini berlanjut. Bahkan pemerintah Shanghai pun sampai membuat pagar pembatas di luar bangunan tempat tinggal warga. Hal itu dilakukan sebagai upaya memerangi wabah virus COVID-19.

Adanya kebijakan tersebut telah memicu protes publik karena dianggap memaksa warga kota terpadat di China itu berada di dalam ruangan. Shanghai lockdown kenapa? Shanghai yang merupakan kota pusat ekonomi terpenting itu kini sedang memerangi wabah COVID-19 terbesar di China.

Banyak pagar didirikan di sekitar kompleks yang ditunjukkan sebagai 'area tertutup'. Artinya, warga yang dinyatakan positif dilarang meninggalkan pintu depan rumah mereka.

Dikutip dari Reuters, Senin (25/4/2022), Shanghai melaporkan ada 39 kasus kematian COVID-19 per tanggal 23 April. Dibandingkan 12 hari sebelumnya, sejauh ini jumlah tersebut merupakan yang terbanyak hingga saat ini.

Secara nasional, China melaporkan ada 20.285 kasus baru virus Corona tanpa gejala pada Sabtu (23/4). Sehari sebelumnya ada 21.423 kasus, dengan 1.580 kasus bergejala. Adanya penyebaran varian virus Omicron yang cepat menular, telah mendorong kota-kota yang ada di sana untuk memberlakukan lockdown.

Pada Sabtu lalu, pemerintah lokal mengumumkan kebijakan karantina ketat di beberapa wilayah. Lalu besoknya, yakni pada Minggu (24/4), sejumlah polisi berpakaian hazmat berpatroli pada jalan-jalan yang ada Shanghai. Polisi juga memasang penghalang di jalan dan meminta pejalan kaki yang berada di luar untuk kembali ke rumah mereka.

Selama tiga minggu China Lockdown telah banyak memicu penduduk frustasi. Warga kesulitan mendapat akses ke makanan, perawatan medis, kehilangan pendapatan, hingga pemisahan keluarga. Lockdown di China itu tentu menyeret masalah ekonomi terbesar kedua di dunia, karena membuat produksi pabrik terganggu, dan munculnya berbagai kesulitan yang dihadapi oleh penduduk karena tidak bisa bekerja.

Setiap harinya, Shanghai telah melakukan tes COVID-19 di seluruh kota, hingga mempercepat pengiriman orang yang positif, ke fasilitas pusat untuk mengurangi penularan virus di luar area karantina.

Dalam Seminggu terakhir, pihak berwenang juga telah menyuruh warga untuk melakukan desinfeksi rumah mereka. Hal itu diketahui dari unggahan media sosial warga di sana.

Lockdown adalah bagian dari kebijakan pemerintah China untuk menghilangkan kasus COVID-19 di seluruh wilayah itu. Pada akhir 2019, China lockdown sebagian besar wilayahnya dan berhasil mencegah COVID-19, setelah wabah awal yang muncul di kota Wuhan.

(fdl/fdl)