Tak Semua Anak Muda Melek Ekonomi Digital, Ini Penyebabnya

ADVERTISEMENT

Tak Semua Anak Muda Melek Ekonomi Digital, Ini Penyebabnya

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 25 Apr 2022 15:38 WIB
Fintech
Ekonomi Digital/Foto: Tim Infografis Zaki Alfarabi
Jakarta -

Layanan keuangan dan keuangan digital tumbuh pesat di tengah pandemi COVID-19. Namun, kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum menikmati manfaat ekonomi digital.

Hal ini menjadi pembahasan utama dalam forum pertemuan Y20 Indonesia. Forum ini menyoroti kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran keuangan digital di kalangan generasi muda.

Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Meutya Hafid dalam keynote speech-nya menekankan pentingnya peningkatan literasi digital di kalangan anak muda, serta peraturan berkaitan dengan tata kelola digital.

"(Literasi digital) menjadi PR bagi Indonesia. Kita sudah bangun infrastrukturnya, tetapi kita juga harus membangun literasi digital untuk meraup keuntungan dunia digital, khususnya bagi para generasi muda," jelas Meutya dalam keterangannya, Senin (25/4/2022).

"Perkembangan digital tanpa tata kelola digital itu tidak efektif. Adanya peraturan yang berkaitan dengan tata kelola digital bisa membuat ekonomi digital lebih berkembang. Regulasi perlindungan data pribadi, misalnya, diperkirakan dapat meningkatkan kepercayaan diri konsumen dalam transaksi digital," imbuhnya.

Sementara itu, Lesly Goh selaku Senior Technology Advisor Bank Dunia mengatakan, "pemberdayaan pemuda harus berada di pusat perumusan kebijakan, seiring dengan bagaimana kita bergerak menuju pemulihan dan menciptakan masa depan yang lebih adil untuk semua."

Di kesempatan yang sama, Setiaji selaku Asisten Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan mengajak anak muda untuk proaktif menciptakan inovasi teknologi khususnya di bidang kesehatan.

"Kami membutuhkan lebih banyak inovasi lagi dari para generasi muda, untuk bekerja sama mengatasi masalah-masalah kesehatan yang ada. Mari kita bersama berkolaborasi untuk layanan kesehatan Indonesia yang lebih baik," ungkap Setiaji.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT