Airlangga Cek 2 Kawasan Ekonomi Khusus di Batam, Ini Perkembangannya

Dea Duta Aulia - detikFinance
Rabu, 27 Apr 2022 21:42 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam Aero Technic (BAT) dan KEK Nongsa Digital Park (NDP) di Batam. Ia meninjau langsung perkembangan pembangunan pada dua kawasan tersebut.

Kunjungan pertama dilakukan Airlangga ke KEK BAT yang beroperasi sebagai KEK berdasarkan PP Nomor 67 Tahun 2021. KEK ini fokus pada kegiatan industri berbasis maintenance, repair, dan overhaul (MRO) pesawat udara serta logistik.

"Kami meninjau KEK terkait MRO, dibandingkan dengan kunjungan pada Juni 2021 lalu, sekarang sudah ada progres terutama dari pembangunan hanggar yang baru, dan terlihat juga kapasitas maintenance meningkat. Tentunya yang penting adalah jumlah tenaga kerja yang meningkat menjadi 3.000 orang, terdiri dari 1.500 insinyur/sarjana teknik, dan sisanya teknisi atau mekanik," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Rabu (27/4/2022).

Ia menuturkan dari luas KEK BAT sebesar 30 hektare nantinya akan dibangun menjadi 4 tahap. Sementara itu dari sisi investasi, ia menjelaskan dana yang sudah masuk mencapai kurang lebih Rp 3 triliun per April 2022. Angka tersebut masih tergolong jauh dari yang telah ditentukan yakni Rp 7,29 triliun di tahun 2030 mendatang.

Pemerintah pun menargetkan KEK BAT mampu menyerap tenaga kerja hingga 9.976 orang di 2030 mendatang. Sementara itu, untuk realisasi saat ini jumlah tenaga kerja yang bekerja baru mencapai 1.474 orang per April 2022.

"Selain itu, kalau industri MRO itu pencapaian target investasinya berdasarkan jumlah pesawat yang lagi di-repair dan saat ini kelihatan kapasitasnya bertambah dan sudah mampu menangani 44 pesawat pada saat yang bersamaan," jelasnya.

Dibangunnya BAT ini diperkirakan akan memberikan efek positif terhadap maskapai penerbangan nasional. Sebab BAT diprediksi mampu menghemat devisa 65%-70% dari kebutuhan MRO dari maskapai penerbangan nasional senilai Rp 26 triliun/tahun yang selama ini mengalir ke luar negeri.

"Dalam jangka menengah diharapkan mampu menangkap peluang dari pasar Asia Pasifik yang memiliki sekitar 12.000 unit pesawat, dan bernilai bisnis sekitar US$100 miliar pada 2025. Biaya akan bersaing dengan negara tetangga, dengan air traffic yang besar, dengan lokasi Batam yang strategis," jelasnya.

Baca Selengkapnya