ADVERTISEMENT

RI Larang Ekspor CPO cs Bikin Deretan Negara Ini Kalang Kabut!

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 29 Apr 2022 09:30 WIB
Workers load palm oil fresh fruit bunches to be transported from the collector site to CPO factories in Pekanbaru, Riau province, Indonesia, April 27, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
RI Setop Ekspor CPO cs Bikin Deretan Negara Ini Kalang Kabut!/Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN
Jakarta -

Larangan ekspor produk sawit seperti CPO hingga minyak goreng oleh pemerintah Indonesia berlaku mulai Kamis (28/4). Kebijakan ini membuat negara importir seperti India, Bangladesh, dan Pakistan jadi kalang kabut.

Kabarnya, India, Bangladesh, dan Pakistan akan mengalihkan pembelian minyak sawit dari Malaysia. Namun para ahli memprediksi jika Malaysia tidak mampu memenuhi kekosongan produksi karena larangan ekspor Indonesia.

Harga minyak sawit naik 5% dalam seminggu terakhir di India. Kenaikan harga juga terjadi di Pakistan dan Bangladesh.

Indonesia menjadi penyuplai hampir setengah dari total impor minyak sawit di India, sementara Pakistan dan Bangladesh mengimpor 80% minyak sawit dari Indonesia.

"Tidak ada yang bisa menggantikan volume minyak sawit yang menghilang dari Indonesia. Semua negara akan menderita," kata Rasheed Jan Mohd, Direktur Asosiasi Minyak Makanan Pakistan (PEORA).

Pada Februari lalu, harga minyak nabati mencatatkan rekor kenaikan akibat anjloknya suplai minyak bunga matahari di Kawasan Laut Hitam.

Menurut pengusaha yang berbasis di Mumbai, kenaikan harga ini meningkatkan kebutuhan produksi para penyuling minyak. Mereka menahan persediaan yang lebih rendah dari biasanya sebagai antisipasi penurunan harga.

Konsumen minyak nabati global tidak punya opsi lain selain menambah ongkos untuk mendapatkan pasokan akibat pembatasan ekspor yang diberlakukan Indonesia. Hal ini juga membuat negara importir harus putar otak dan mencari alternatif lain minyak nabati yang sebelumnya sudah terbatas akibat konflik Rusia-Ukraina.

Pengamat industri memprediksi jika kebijakan larangan ekspor yang diambil Indonesia berpengaruh terhadap naiknya semua harga minyak nabati, termasuk minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan minyak lobak. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran konsumen atas kemungkinan naiknya harga bahan bakar dan harga makanan di kawasan Asia dan Afrika.

"Keputusan Indonesia (membatasi ekspor) berdampak tak hanya kepada ketersediaan minyak sawit, tetapi juga ketersediaan minyak nabati di seluruh dunia," Kata James Fry, Direktur LMC Internasional.

Minyak sawit banyak dipakai untuk berbagai kebutuhan, seperti bahan pembuatan kue, bahan baku kosmetik, hingga produk pembersih. Sawit mewakili 60% perdagangan minyak nabati di dunia, dan sepertiganya berasal dari Indonesia.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT