ADVERTISEMENT

Petani Sawit Teriak Cabut Larangan Ekspor, Petinggi Kemendag Bilang Begini

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 16 Mei 2022 13:47 WIB
A worker loads fresh fruit bunches to be distributed from the collector site to CPO factories in Kampar regency, as Indonesia announced a ban on palm oil exports effective this week, in Riau province, Indonesia, April 26, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN

Sebagai informasi, petani kelapa sawit memang mengeluhkan larangan ekspor CPO dan turunannya berdampak buruk bagi mereka. Saat ini mereka kewalahan untuk menjual TBS.

Dampak saat ini adalah tempat penjualan TBS bagi petani di pabrik kelapa sawit (PKS) sudah penuh, banyak juga yang sudah berhenti beroperasi. Kemudian, melimpahnya pasokan mengakibatkan harga anjlok.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono mengatakan, saat ini untuk petani swadaya harga TBS sekitar Rp 1.800 hingga Rp 2.000 per kilo TBS.

"Untuk yang swadaya ini sudah kewalahan harganya. Kalau yang masuk kemitraan, di Riau saat ini Rp 2.900/kilo. Anjlok, gimana orang dari Rp 4.000/kilo jadi Rp 2.900/kilo," katanya kepada detikcom.

Setiyono mengatakan sebenarnya harga TBS normalnya Rp 4.000/kilo. Namun, diakui harga itu juga masih tidak wajar.

"Harga sawit memang 4.000/kilo, itu sebenarnya tidak wajar. Tetapi jika diimbang harga pupuk yang naik 300% jadi wajar. Tetapi kalau harga CPO saja sudah Rp 17.000/kilo, nggak mungkin minyak goreng dijual Rp 14.000/liter. Karena Rp 17.000 harga sudah mencapai TBS Rp 4.000/kilo," jelasnya.


(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT