Mal Blok M Meredup, Omzet Terjun Bebas-Pedagang Beralih ke Online

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 16 Mei 2022 16:30 WIB
Suasana Mal Blok M sepi
Foto: Shafira Cendra Arini/detikcom: Suasana Mal Blok M sepi
Jakarta -

Mal Blok M yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan legendaris di Jakarta kini sepi. Pantauan dari detikcom pada Minggu sore (15/05/2022), banyak pelaku usaha yang telah menutup gerainya karena pengunjung sudah tidak ramai lagi, dan akhirnya tidak bisa membayar sewa.

"Kebanyakan tidak kuat membayar sewa. Ya karena semakin ke sini semakin sepi. Anjlok total semuanya. Terutama di bagian baju-baju di sana, tinggal 3-4 kios yang buka," ujar salah seorang penjaga toko aksesoris, kepada detikcom.

Ia juga menambahkan kondisi ini telah terjadi sejak tahun 2014-an dan semakin diperparah dengan pandemi Covid-19. Saat pandemi COVID-19 melanda, Blok M Mall sempat tutup dua kali, yakni 3 bulan di awal lockdown dan 1 bulan ketika PPKM.

Salah satu penjaga toko pakaian mengatakan sepinya Mal Blok M diawali dengan ditutupnya gerai Ramayana dan Robinson, diikuti dengan toko-toko lainnya.

"Dulu ada Ramayana, Robinson, dan KFC juga itu ikonnya. Mall ini sangat terkenal pada masanya sebagai mall terowongan bawah tanah. Setelah tutup, pelan-pelan gerai-gerai kecil juga banyak yang ikut tutup. Karena ikonnya sudah tidak ada, pengunjungnya jadi berkurang juga tidak ada penariknya," ujar dia.

Pergantian kepala pengelola pun menjadi salah satu faktor tambahan yang dianggap para pedagang sebagai penyebab semakin sepinya mal.

"Sempat ada pergantian sekitar 3 kali. Dulu waktu jaman pengelola yang pertama istilahnya dia tangannya dingin, jadi dulu ramai sekali sampai-sampai jalan disini saja desak-desakan. Pengelola-pengelola yang berikutnya hingga sekarang belum bisa sampai seperti yang pertama," tutur Faris, salah seorang pengelola toko pakaian di Mal Blok M, kepada detikcom.

Jika dibandingkan dengan kondisi sekarang dengan masa jaya Mal Blok M dulu di tahun 2000-an, pemasukan harian dari gerai Faris anjlok hingga mencapai 70-80%.

"Sekarang coba buka lewat online juga, karena jaman sekarang apa-apa serba online ya jadi banyak juga orang yang memilih belanja lewat online saja. Cuma ya namanya buka toko online harus amanah dan pesaingnya juga semakin banyak," ujar dia.

Persaingan pasar yang semakin terbuka lebar berkat kemajuan di bidang teknologi dan semakin banyaknya mall-mall besar di Jakarta yang berdiri, juga menjadi faktor tambahan yang mengakibatkan para pedagang dituntut untuk berjuang lebih keras.

"Di mal-mal besar seperti sekarang kan banyak gerai yang istilahnya tempat hits, itu biasanya yang lebih menarik dan di sini sudah tidak ada lagi. Untuk ke depannya, campur tangan pengelola sangat dibutuhkan dalam membuat strategi untuk bisa menghidupkan kembali mal yang sudah lama sepi ini sehingga bisa menarik pengunjung," tutur Faris

(hns/hns)