Negara 'Bangkrut', Sri Lanka Mau Jual Maskapai Nasional

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 15:54 WIB
China danai proyek Dubai baru di Sri Lanka, jadi pusat ekonomi dunia atau daerah kantong kekuasaan baru Tiongkok?
Foto: BBC World
Jakarta -

Maskapai nasional Sri Lanka bakal dijual. Sri Lankan Airlines bakal dijual oleh pemerintah baru Sri Lanka pimpinan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe untuk menstabilkan keuangan negara.

Sri Lankan Airlines sendiri telah kehilangan nilai perusahaannya mencapai US$ 124 juta atau sekitar Rp 177,32 miliar pada Maret 2021. Hal itu diungkapkan Wickremesinghe berapa hari sebelum negara itu secara resmi gagal membayar utang luar negeri.

"Seharusnya kerugian ini tidak ditanggung oleh yang paling miskin dari yang miskin, mereka belum tentu pernah menginjakkan kaki di pesawat," kata Wickremesinghe dilansir dari Bloomberg, Selasa (17/5/2022).

Sri Lankan Airlines sebelumnya pernah dimiliki oleh Emirates Airlines. Pada 2010, pemerintah Sri Lanka baru membeli kembali saham Sri Lanka Airlines dari Emirates.

Maskapai nasional itu memiliki armada sebanyak 25 pesawat Airbus SE. Mereka terbang ke tujuan di Eropa, Timur Tengah, serta Asia Selatan dan Tenggara.

Sri Lanka dilanda krisis keuangan yang sangat parah. Bahkan, Wickremesinghe dalam waktu kurang dari seminggu sebagai Perdana Menteri langsung melakukan penambahan pencetakan uang untuk membayar gaji karyawan pemerintahan. Langkah itu jelas akan menekan nilai mata uang negara tersebut dan mendorong inflasi terjadi.

Di sisi lain, negara ini hanya memiliki stok bensin untuk satu hari. Pemerintah sedang berupaya untuk mendapatkan tiga kapal tanker minyak mentah di pasar terbuka untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di negaranya.

"Beberapa bulan ke depan akan menjadi yang paling sulit dalam hidup kita," kata Wickremesinghe.

Kabinet baru akan mengusulkan agar parlemen meningkatkan batas penerbitan utang di RUU Perbendaharaan. Hal ini memperkirakan defisit anggaran sebesar 13% dari produk domestik bruto untuk tahun yang berakhir Desember 2022.

Wickremesinghe sendiri sampai sekarang belum menunjuk seorang menteri keuangan untuk memimpin pembicaraan dana bailout besar-besaran dengan Dana Moneter Internasional. Pihaknya pun sedang mencari pinjaman lain dari negara-negara termasuk India dan China.

Lihat juga video 'Sri Lanka Relatif Lebih Tenang Usai Berlakukan Jam Malam':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/dna)