Duh Duh Duh... Sayuran Makin Mahal Nih Warga! Harga Cabai Naik 50%

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 09:46 WIB
Poster
Ilustrasi Suasana Pasar (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Para pedagang Pasar Lokbin Muria Dalam resah akan kondisi harga sayuran yang melambung tinggi hingga mencapai 50%. Tidak ada yang tahu mengapa fenomena tersebut terjadi.

Terpantau oleh detikcom, pada pukul 08.00 di hari Kamis (19/05/2022), suasana pasar masih ramai seperti biasanya. Yang terlihat berbeda hanyalah harga sayur mayur yang sedang melambung tinggi.

"Saya tidak mengerti kenapa harga bisa naik. Katanya, antara pengirimannya lagi kosong atau bagaimana," ujar Ari, salah seorang pemilik gerai sayuran di pasar tersebut.

Ari menuturkan bahwa harga cabai yang sempat naik ketika lebaran kini naik kembali dengan kisaran harga Rp 60 ribu dari harga Rp 40 ribu. Kenaikan harga tersebut mencapai lebih dari 10% bahkan ada beberapa yang mencapai 50%.

"Kacang panjang ini saya jual di Rp 20 ribu, padahal normalnya di Rp 10 ribu sampai 15 ribu. Naik sekitar 50%," ujar dia.

Mendukung pernyataan Ari, pedagang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Salah seorang pedagang mengatakan bahwa yang sedang mahal ialah bawang merah.

"Yang sedang mahal sekali ini bawang merah. Saya jual dengan harga Rp 50 ribu per kilo. Tidak tahu gagal tanam atau bagaimana, padahal di Indonesia ditanam di mana-mana," ujar pedagang tersebut.

Mba Sum, salah seorang pemilik gerai sayuran juga merasakan hal yang sama. Dia mengatakan bahwa hampir semua sayuran mengalami kenaikan harga antara lain sawi, kol, oyong, sawi hijau, cabai rawit merah dan hijau, brokolo, kembang kol, dan bawang merah.

"Sawi dijual Rp 14 ribu, dari normalnya cuma di harga Rp 6-7 ribu. Kacang panjang juga di harga Rp 20 ribu, sedang mahal juga itu," ujar dia.

Sum juga menambahkan bahwa kenaikan harga sayur sudah lama terjadi, namun berangsur meningkat dari hari ke hari.

"Kurang tahu juga kenapa naik. Tapi ini semua sepengetahuan saya dari lokal dan tidak ada yang impor lagi," ujar dia.

Sum menambahkan kalau dirinya dan para pedagang di pasar tersebut rata-rata mengambil dari Pasar Induk Kramat Jati sehingga kurang tahu menahu mengapa kenaikan harga ini bisa terjadi.

Lihat juga Video: Indikator Politik soal Harga Minyak Goreng: Jauh dari Ekspektasi Publik!

[Gambas:Video 20detik]





(dna/dna)